. Takbir Keliling, Sarana Dakwah atau Pembodohan Umat? ~ DetikSisa.com

Rabu, 23 September 2015

Takbir Keliling, Sarana Dakwah atau Pembodohan Umat?

Takbir Keliling, Sarana Dakwah atau Pembodohan Umat?


Pada tahun 2015 ini, pada akhirnya perbedaan pendapat tentang kapan jatuhnya hari raya Idul Adha sampai sudah pada puncaknya. Seolah umat islam terbelah menjadi dua kubu. Ada yang sudah melaksanakan shalat Ied pada hari Rabu, 23 September 2015 dan ada pula yang akan melaksanakan hari Kamis, 24 September 2014. Bukankah perbedaan hari tersebut sesungguhnya sesuatu hal yang sangat ganjil, mengingat peringatan hari kurban adalah setelah wukuf di Arafah selesai? Tapi bukan itu yang akan kita bahas karena saya yakin sudah banyak yang membahas hal tersebut, terlebih lagi keterbatasan ilmu agama saya juga menjadi alasan tersendiri untuk tidak terlalu jauh melakukan pembahasan tentangnya.

Sudah menjadi adat bahwa setiap peringatan Idul Adha akan dimeriahkan dengan gema takbir di berbagai sudut-sudut kota sampai ke pelosok desa. Salah satu kegiatan yang seringkali digunakan untuk memeriahkannya sekaligus sebagai ajang dakwah adalah dengan mengadakan takbir keliling. Zaman dahulu sewaktu saya masih kecil, takbir keliling menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak dan remaja. Berjalan mengelilingi kampung dan mengumandangkan takbir lengkap dengan membawa 'oncor' atau lampion adalah sesuatu yang mampu memberikan kepuasan tersendiri.

Seiring dengan perkembangan zaman serta pesatnya teknologi, ternyata kegiatan takbir keliling pun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Yang tadinya hanya mengumandangkan takbir, saat ini kegiatan tersebut juga 'merias diri' dengan berbagai ornamen serta alunan alat musik--hampir mirip dengan acara karnaval atau gelar seni budaya untuk menyambut hari tertentu. Memang dengan kemeriahan yang diciptakan, ternyata 'periasan diri' yang dilakukan cukup berhasil untuk menyedot animo masyarakat. Setiap diadakan takbir keliling, masyarakat berbondong-bondong untuk melihatnya, tidak hanya dari kalangan muslim, dari kalangan non muslim pun tidak mau ketinggalan. Sampai di sini, memang takbir keliling harus diakui mampu menyelesaikan misi mengumpulkan orang, paling tidak dengan begitu gema takbir yang dikumandangkan akan didengar oleh banyak orang pula. Tentu hal ini adalah hal yang positif.

Namun ternyata, jika kita mau menilisik lebih dalam, kegiatan takbir keliling menyimpan banyak 'borok' yang sampai saat ini belum disadari umat. Tentu akan sangat disayangkan jika kegiatan yang awal mulanya dimaksudkan untuk syiar agama justru bisa berdampak buruk terhadap kemajuan berpikir umat islam. Coba kita lihat, kegiatan ini kini mulai keluar jalur. Dengan adanya ornamen serta bebunyian alat musik tentu disadari atau tidak akan mengurangi kekhusyuán dalam menggemakan kebesaran Allah. Dan saya yakin, jika dilakukan survei apakah penonton yang hadir ingin mendengarkan takbir atau ingin melihat kemeriahan takbir dengan berbagai ornamennya, pastilah sebagian besar akan menjawab dengan jawaban yang kedua. Ini baru ,borok'yang pertama saja. Tapi bukankah dengan ornamen dan bebunyian alat musik tersebut berhasil menyedot perhatian? Bukankah ornamen yang ada juga berhubungan dengan islam, seperti miniatur masjid, miniatur ka'bah dan lain-lain? Memang ada yang salah?

Memang benar, beberapa ornamen yang dihadirkan tidak jauh dari islam. Tapi ternyata tidak semuanya seperti itu! Mari kita perhatikan, silahkan searching di google denga key word "Takbir keliling" atau "Lomba Takbir keliling", arahkan hasil pencarian kepada gambar. Silahkan cek gambar hasil pencarian. Apa saja yang ada di sana? Apakah semua membuat maskot seperti masjid, domba, bedug, kaligrafi dan benda-benda yang berhubungan dengan agama islam? Jawabannya adalah TIDAK! Di hasil pencarian tersebut juga jelas beberapa maskot berbentuk karakter yang menyimpang dari islam, seperti ogok-ogok(genderuwo), pegasus, barongsai(naga), dinosaurus bahkan di desa saya sendiri ada yang membuat karakter Kyubi(rubah ekor sembilan). Bukankah karakter tersebut adalah karakter yang berasal dari luar islam? Apa mungkin seorang Naruto yang berubah menjadi kyubi bisa menumbuhkan nilai-nilai islam kepada para penonton? Atau bagaimana dengan ogok-ogok(genderuwo) dan pegasus? Inilah yang saya sebut sebagai pembodohan umat. Hal ini akan sangat berdampak buruk terhadap generasi muda kaum muslimin. Bisa jadi generasi depan akan lebih parah dalam 'merias' kegiatan takbir keliling ini. Bukan hal yang mustahil jika ada anak yang bertanya kepada anaknya, "Papa, apa genderuwo itu agamanya juga islam?". Bukankah kita sebagai seorang muslim tidak dianjurkan untuk menyerupai umat lain? Ya, inilah 'borok'dari kegiatan takbir keliling. Jika sudah begini, yang ada adalah pembodohan generasi muslim!!!

Gubuk, 2015
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

0 komentar:

Posting Komentar