. DetikSisa.com

Jumat, 20 November 2015

Kutemukan Cinta di Jeruji Besi

Kutemukan Cinta di Jeruji Besi
Add caption

Malam semakin larut. Pendar cahaya rembulan yang pucat pasi mengguyur dinding angkuh di sekitarku. Sorot lampu di atas menara menari-nari, menyoroti setiap sudut tempat ini. Ya, inilah tempat para penjahat menghabiskan waktu untuk menebus setiap kesalahan yang pernah mereka lakukan. Aku adalah salah satu Pegawai Negeri Sipil di Rumah Tahanan Negara (RUTAN) Kelas II B Wates, Kulon Progo, Yogyakarta. Sudah hampir dua tahun terakhir, tempat ini menjadi rumah kedua bagiku, tempat untuk meraup rizki yang dipersiapkan oleh Sang Illahi. Selama itu pula, berbagai kejadian penuh hikmah selalu menghampiri tanpa permisi. Malam itu, sebuah kejadian tak terduga kualami. Sebuah kejadian yang mampu menampar hati dan pikiran. Sebuah kejadian yang benar-benar membuatku terhenyak dan larut dalam lautan renungan yang begitu dalam. 
Seperti biasa, saat berdinas di malam hari, ada tugas untuk mengecek keadaan setiap kamar tahanan. Kulihat jam tanganku, "Pukul 03;00 WIB!" Gumamku dalam hati. Berbekal lampu senter dan alat control, perlahan kuayunkan kaki dengan sedikit malas memutari dinding-dinding berjeruji yang sedari tadi hanya diam. Sepi ... sunyi ..., yang terdengar hanyalah langkah kakiku yang bersahutan dengan suara binatang malam bernyayi riang. Satu per satu kamar kulewati, hingga pada akhirnya langkahnku terhenti di kamar B.I. Kamar ini berisi satu penghuni bernama Arif. Dia adalah salah satu tahanan di bawah umur yang terjerat kasus narkoba. Kasus obat terlarang ini memang sedang menjadi 'trend' di kalangan remaja. Dari dalam kamarnya, kudengar rintihan dan isak tangis yang lirih.
 Rintihan itu membuat bulu di sekujur tanganku merinding. Sesekali lantunan ayat menyela dibarengi doa-doa yang terpanjat untuk Sang Pencipta. "Rif, kamu kenapa?" tanyaku dengan nada yang kupelankan. 
Takut menggangu penghuni di kamar lain yang beberapa di antaranya sedang khusyu' menjalankan salat tahajud. 
"Sa ... sa ... saya tidak kenapa-kenapa, Pak. Ini baru saja selesai melaksanakan salat tahajud" jawab Arif sembari mengusap air mata yang membasahi mata dan pipinya. 
"Kamu menangis, Rif? Ada masalah apa? Kangen dengan keluargamu, ya?' 
Angin semilir membelai mesra. Suasana seketika berubah menjadi aneh, nyanyian binatang malam tak lagi terdengar, semilir angin yang sedari tadi menari juga tiba-tiba terhenti. Seolah mempersilahkan aku dan Arif bercengkerama tanpa ada gangguan. 
"Iya, Pak. Saya kangen keluarga. Kangen Emak, Bapak, dan adik-adik di rumah. Tapi bukan itu saja yang membuat air mata ini jatuh, Pak. Saya sungguh bersyukur karena di tempat ini, saya bisa menemukan cinta." 
"Kamu ini ada-ada saja, Rif. Di penjara seperti ini harusnya kamu intropeksi diri, bukannya justru memikirkan cinta!" Jawabku dengan nada sedikit bergurau. 
Bukan begitu maksud saya, Pak. Saya bersyukur karena Allah SWT menggoreskan takdirnya agar saya tertangkap dan masuk penjara ini. Bayangkan saja jika hal itu tidak terjadi! Mungkin saat ini saya masih asyik menikmati narkoba yang perlahan akan menghancurkan masa depan. Bahkan bisa jadi saya sekarat akibat sakau. Sedangkan di tempat ini, waktu untuk mendekatkan diri kepada-Nya lebih banyak. Tidak ada godaan dari barang haram tersebut, Pak. Jujur, di tempat ini saya temukan cinta. Cinta kepada-Nya! Di balik jeruji ini pula, saya menjadi lebih dekat dengan-Nya dan semakin mengenal-Nya, hal itulah yang membuat saya sangat bersyukur." 
Aku hanya terdiam setelah mendengar jawaban darinya. sebuah jawaban yang menampar hati dan pikiran dengan begitu kerasnya. Baru kali ini, sebuah sentilan sekaligus pelajaran kudapatkan dari penghuni penjara yang notabene adalah para pelaku tindak kriminal yang dianggap sebagai sampah masyarakat. 
 "Kamu memang luar biasa, Rif. Semoga Allah selalu mencintaimu, memberikan kemudahan serta ketabahan kepadamu dalam menghadapi cobaan ini." 
 "Iya, Pak. Terima kasih!" 
Aku lekas melanjutkan tugasku. Kembali kulangkahkan kaki mengecek setiap kamar. Di setiap pijakan langkah demi langkah kakiku, kata-kata Arif tadi masih saja terus membayangi. Tamparan yang begitu keras masih terasa membaluti hati dan pikiranku yang melayang-layang. Setelah selesai melaksanakan tugas, aku duduk di depan pintu mushola. Entah ada apa gerangan hingga secara tidak sadar, tiba-tiba aku berada di tempat ini. Selama ini, banyak waktu yang tersia-sia dan tidak kugunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mata, hati, pikiran dan seluruh tubuh terpaut jauh dari mushola ini. 'Ini sebuah pelajaran berharga bagiku!" Waktu terasa terlewat dengan tersendat-sendat. 
Kulepas sepatuku, kulangkahkan kaki untuk mengambil air wudu. Saat ini yang kuinginkan hanyalah salat tahajud! Merenung dan bermuhasabah kepada-Nya. Sungguh kejadian yang baru saja kualami menjadi pelajaran yang berharga. Setelah selesai melaksanakan salat tahajud, aku terdiam dalam lamunan yang entah. Mungkin ini adalah salah satu cara Allah untuk menegurku, ya, menegurku! Allah seolah ingin memberitahuku bahwa hanya cinta dari-Nya serta teruntuk-Nya lah yang senantiasa tak mengenal tempat dan waktu. Bahkan di jeruji penjara pun, cinta itu bisa menghampiri dengan sejuta keindahan dan cahaya terang penuh kesejukan. Adalah sebuah kesalahan besar jika selama ini penjara hanyalah dianggap sebagai tempat yang penuh kekerasan. Sebuah kesalahan pula jika masyarakat beranggapan bahwa penghuni penjara adalah sampah masyarakat. Bagaimanapun juga, setiap orang pernah melakukan dosa dan kesalahan, saat itu pula Allah selalu memberi kesempatan untuk bertubat. Bisa jadi, diri kita ini tidak jauh lebih baik dari para penghuni penjara! 
GubukAkasara,2015
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Kamis, 19 November 2015

Air Mata Ayah


Air Mata Ayah

Hari ini adalah hari ke-lima di lebaran tahun 2012. Seperti biasa, saat seperti ini adalah saat yang tepat berkunjung ke sanak saudara. Saling mengunjungi untuk bersilaturahmi menjadi sebuah keharusan yang tak bisa dilepaskan.
Malam itu, aku dan keluarga besar sedang berkumpul di rumah. Sebuah suasana yang mungkin hanya setahun sekali terjadi. Maklum, beberapa sanak saudara berada di luar kota. Susana kebersamaan begitu kental terasa, hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga tak terasa sudah larut malam.

"Za, besuk ikut ke Temanggung, ya. Silaturahmi ke rumah bulikmu."

"Iya, paklik. Insyaallah."

Pagi tiba, azan subuh menggema membangunkan tidurku. Pukul lima pagi, aku dan paklik beserta istrinya bersiap-siap untuk berangkat ke Temanggung. Dengan menggunakan mobil, kami melakukan perjalanan menuju rumah keluarga bulik. Perjalanan yang begitu melelahkan, terlebih lagi beberapa hari ini tenagaku habis untuk berkeliling ke tempat saudara selain itu juga semalam aku tidur terlalu larut malam sebab bercengkerama dengan sanak saudara. Akhirnya, setelah dua jam perjalanan, kami tiba di rumah bulik. Saling bercengkerama dan bercanda membuat kelelahan saat perjalanan perlahan sirna.
 
***

Matahari mulai condong ke barat. Tak terasa maghrib tiba. Setelah melakukan salat maghrib, kami berpamitan untuk kembali ke Jogja. Tubuh ini begitu lemas, terlebih lagi sedari pagi perut hanya mampu menampung sedikit nasi. Di perjalanan pulang, kepala ini benar-benar terasa pusing. Mukaku mulai pucat, keringat dingin mengalir deras.

"Kamu kenapa, Za? Mukamu pucat." Tanya bulik kepadaku.

"Kepalaku pusing, Bulik."

Badan bergetar hebat, rasanya kepala ingin pecah saja. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit. Beberapa menit kemudian, pandanganku mulai kabur, semua remang-remang dan semakin tak terlihat. Gelap! Semua begitu gelap! Aku tak sadarkan diri. Hanya keheningan yang terasa. Tubuhku tak bisa digerakkan.

***

Perlahan kubuka mata. Tubuh rasanya tak berdaya. aku begitu bingung, apa yang sedang terjadi? Di hidung telah menempel selang oksigen, selang infus juga sudah rapi melekat di tangan. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, yang kuingat hanyalah saat di dalam mobil dan tiba-tiba semua menjadi gelap
 
"Kamu sudah sadar, Nak?"

"Aku ada di mana, Bu?"

"Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan di mobil."

Beberapa bagian tubuh mati rasa, bahkan tangan kananku tak bisa kugerakkan sama sekali. Ini pertama kalinya kurasakan sakit yang begitu hebat di sekujur tubuh. Tak selang lama, dokter menghampiri dan mengecek keadaanku.

"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Ayah yang duduk di samping Ibu.
"Baik-baik saja, Pak. Mungkin karena kelelahan. Tadi sudah diambil sampel darahnya, kita tunggu hasil uji laboratoriumnya dulu, baru bisa tahu apa yang menyebabkan anak Bapak pingsan."

***

Hari berganti. Saat menjelang maghrib, sekitar pukul lima sore, banyak sanak saudara dan tetangga yang berdatangan untuk menjengukku. Rasanya hatiku begitu terenyuh, ternyata masih banya yang perduli padaku. Beberapa teman kuliah dan teman-teman organisasi di desa juga datang. Kedatangan mereka membuatku terharu.

Azan maghrib terdengar. Saat itu juga, tiba-tiba kepalaku seperti ingin pecah. Perutku mual dan ingin muntah tapi tak ada yang dimuntahkan. Rasanya mata ini kembali berkunag-kunang. Napasku mulai tak teratur. Dada ini tiba-tiba begitu sesak, tubuh pun mulai kejang-kejang. Sakit yang begitu hebat kurasakan di sekujur tubuh.Kupegang erat tangan ibu yang menghampiriku. Aku pun kembali tak sadarkan diri. Hanya tangisan dan jerit yang terdengar tanpa mampu melihat apa yang sedang terjadi.

Gaduh! Jerit, tangis dan kepanikan begitu terasa meskipun mata tak mampu melihat apa-apa. Kudengar ibu dan ayah menangis, memanggil-manggil namaku berulang kali.

"Istighfar, Nak."

Tiba-tiba semua terasa hening. Suasana ini ..., membawaku ke dalam ketenangan yang belum pernah kurasakan. Samar-samar terlihat sosok yang tak kukenal dan tak pernah bisa kuingat. Yang masih melekat hanyalah pegangan tangannya yang begitu menyejukkan.

"Apakah aku sudah mati? Ya, Allah, aku masih belum ingin mati. Masih banyak bekal yang harus kukumpulkan untuk mendapatkan surgaMu"

Entah apa yang terjadi, badan tak bisa kugerakkan, mata pun tak bisa dibuka. Begitu tenang! Meskipun begitu, hati dan pikiran masih bisa merasakan ketakutan yang bercampur dengan penyesalan. Penyesalan atas apa yang telah kulakukan selama ini. Suasana ini seolah menyeretku ke dalam ruang perenungan yang begitu dalam. Aku takut! Takut karena merasa masih belum cukup bekal untuk menemui kematian.

Tiba-tiba kurasakan tetesan air di tanganku. Ya, air mata dari ayah dan ibu yang selama ini tak jarang kumarahi juga kusanggah perintahnya.

Samar-samar kudengar ayahku menangis, "Ya Allah, jangan Kau ambil anakku secepat ini."

Tangis ini rasanya ingin pecah. Aku masih ingin hidup! Badan ini rasanya ingin bergerak dan segera memeluk ayah.

Beberapa saat kemudian, mataku mulai bisa terbuka secara perlahan. Sedikit demi sedikit mulai terlihat sanak saudara yang sudah mengerumuniku dengan mata mereka yang berlinang air mata. Secepat kilat, ayah langsung memeluk dan menciumi wajahku. Tak henti-hentinya kalimat syukur terlontar. Pelukannya begitu terasa nyaman.

"Alhamdulillah, terima kasih Ya, Allah. Engkau telah mendengar doa-doaku."

Suasana yang tadinya hening berubah menjadi haru. Air mataku berlinang, membasahi pipi. Mulut tak mampu berkata apa-apa, hanya bisa merasakan hangatnya pelukan ayah. Memang selama ini ayahlah yang paling dekat denganku. Meskipun dia mendidikku dengan keras, namun justru itulah yang membuat kami begitu dekat.

***

Peristiwa ini menjadi peristiwa yang tak akan pernah terlupakan. Allah menegurku dengan keras! Seolah Dia ingin mengatakan bahwa kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja. Tidak ada patokan umur menyoal kematian, daun muda pun bisa gugur di terpa angin. Semua semakin terasa begitu aneh, karena saat itu dokter tak menemukan penyakit yang parah di tubuhku. Hasil uji laboratorium tidak menemukan keganjilan sedikitpun, semua normal!

Selain itu, satu hikmah yang sangat berarti adalah bahwa aku mulai mengerti betapa besar rasa sayang seorang ayah. Baru pertama kali ini aku melihat ayah menangis, menangis untuk anaknya. Betapa berdosa ketika selama ini, aku acapkali durhaka dan berbuat salah kepadanya. Membantah, membentak, tidak mendengarkan kata-katanya, tidak mematuhi apa yang diperintahnya, dan masih banyak lagi kesalahan yang tak akan bisa dihitung dengan jari. Aku mencintaimu, betapa air matamu benar-benar telah membuktikan seberapa besar sayangmu padaku.

Rasa syukur tak henti-hentinya kupanjatkan. Pikiranku melayang-layang di atas langit muhasabah yang cerah. Dalam hati, aku berjanji akan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Selain itu, membahagikan orang tua dan berbakti kepada mereka adalah sebuah keharusan yang tak boleh dilupakan. Terkadang, kita akan merasakan betapa besar kasih sayang orang tua pada saat yang tak pernah kita kira sebelumnya.

Semenjak kejadian itu, bayang-bayang kematian sering muncul saat aku sendirian. Saat bayang-bayang kematian itu datang, saat itu pulalah ketakutan menyelimuti. Bukan takut akan kematian, tapi lebih takut dengan apa yang akan kutemui setelah kematian. Semua mahluk hidup pastilah akan mati. Dan kematian bukanlah akhir, tapi sebuah awal dari kehidupan yang abadi. Dengan mengingat kematian, kita akan senantiasa mengingat kebesaran Allah dan mengingat apa yang seharusnya dilakukan di dunia ini. Kita hendaknya berhati-hati dalam menjalani hidup! Selain itu, peristiwa ini membuatku semakin sadar, ternyata sekeras apapun orang tua, mereka tetap menyayangi kita dengan sepenuh hati. Sebagai seorang manusia, kita harus senantiasa bermuhasabah atas apa yang kita lakukan di dunia ini. Meskipun umur tidak bisa dihitung, dan kematian tak bisa diterka kapan datangnya, tidak ada salahnya jika kita senantiasa merenung dan mengukur waktu kita yang setiap hari semakin berkurang. Ya, mengingat mati adalah hal yang akan mengingatkan kita kepada Illahi. Ingatlah! Semua mahluk yang hidup pasti akan menemui kematian dan setelah kematian akan datang kehidupan yang kekal.

GubukAksara, 2015
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Rabu, 18 November 2015

Kepercayaan dan Cinta


Kepercayaan dan Cinta

"Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Mas? Apa salahku?" Gerimis tipis mulai membasahi pipi Zahra. Sore itu, hatinya serasa disayat-sayat pedang nan tajam. Bagaimana tidak, suami yang begitu dicintainya ternyata selingkuh dengan wanita lain. Hati istri mana yang tidak pecah berantakan mengetahui bahwa suaminya menghianati ikatan suci yang telah dibina selama enam tahun lebih. 

Tahun 2009 lalu adalah tahun yang tak akan terlupakan oleh Zahra. Tepat di tanggal 17 Juli 2009, dia dipersunting oleh Rahmad, sosok lelaki yang sangat dicintainya semenjak masih berada di bangku kuliah. Zahra menjadi wanita yang beruntung bisa memiliki Rahmad. Dia adalah salah satu lelaki yang banyak digilai oleh teman-teman kampusnya. Penampilannya yang kalem, mudah bergaul dan pandai membuatnya banyak dikejar oleh para hawa.

***

Lima tahun setelah pernikahan, Zahra masih belum dikaruniai anak. Dua kali sudah Zahra mengalami keguguran. Hal ini membuat keluarganya menjadi tidak lagi senyaman dulu. Sebuah ujian yang berat tentunya, terlebih lagi sang mertua sudah tidak sabar untuk mendapatkan cucu. 

Malam itu, Zahra sedang makan bersama dengan mertuanya. Di saat seperti inilah sang mertua acapkali membahas masalah tentang kegagalan Zahra yang belum bisa memberikannya cucu.

"Nak, kapan kamu bisa memberikan cucu untukku?" Pertanyaan dari mertua Zahra membuka percakapan malam itu.

"Maafkan Zahra, Ma. Zahra ingin sekali segera memberikan cucu. Tapi Zahra hanya bisa berusaha dan berdoa, sedang hasil akhirnya tetaplah Allah yang menentukan," jawab Zahra dengan raut wajah yang memelas.

"Apa kamu tidak punya pikiran untuk mengadopsi anak? Umur Mama sudah semakin tua, sebelum meninggal, Mama ingin merasakan menggendong cucu!" 

Zahra terkaget-kaget mendengar pertanyaan mertuanya. 

"Tapi ... apakah Mas Rahmad setuju kalau aku meminta mengadopsi anak, Ma?" 

"Coba kamu bicarakan hal ini dengan suamimu. Siapa tahu dia setuju dengan usulan ini." Jawab mertua Zahra dengan muka yang datar.

"Teng tong!!!"

Tiba-tiba terdengar suara bel rumah. Zahra bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata suaminya yang baru saja pulang dari kantor. Rahmad lekas masuk ke dalam rumah dan mengganti pakainnya. Dia pun langsung menuju ruang makan untuk ikut makan bersama Zahra dan ibunya. 

"Ada apa ini? Kuk suasananya terlihat tegang?" Rahmad mulai curiga dengan gerak-gerik istri dan ibunya yang tidak seperti biasa.

"Mas ... boleh aku bertanya?" 

"Mau tanya apa, Ma? Terlihat wajah Rahmad yang kebingungan dan penasaran.

"Gini, Mas. Tadi aku habis ngobrol sama Mama. Dia ingin segera mendapatkan cucu. Mama ingin kita mengadopsi anak." Dengan perlahan Zahra mencoba menyampaikan apa yang tadi diutarakan oleh mertuanya.

"Apa?! Mengadopsi anak? Aku tidak mau!!!" Terlihat wajah Rahmad yang penuh amarah. Bagaimana tidak, pertanyaan Zahra seolah menjadi petir yang tiba-tiba menyambar. Terlebih lagi dia baru saja pulang dari mencari nafkah.

***

Semenjak percakapan malam itu, sifat Rahmad mulai berubah. Dia lebih sering bediam diri. Hal ini tentu membuat Zahra serba kebingungan atas sikap suaminya yang berubah drastis. Zahra merasa bersalah atas apa yang telah dia sampaikan tentang keinginan mertuanya untuk mengadospi anak. Tapi bagaimana lagi, Zahra seolah berada di antara jurang yang sama-sama dalam. Di satu sisi, sebagai seorang istri dia tidak ingin membuat suaminya marah, tapi di sisi lain sebagai seorang menantu dia tak ingin membuat mertuanya juga marah.
Akhir-akhir ini pun suaminya sering pulang malam. Entah apa yang dilakukan di luar sana. Sebagai seorang istri, tentunya Zahra menaruh curiga sekaligus khawatir akan suaminya dan kelangsuang rumah tangga mereka. Setiap malam Zahra selalu berdoa dan memohon petunjuk kepada Allah agar diberikan jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi.
Baginya, semua ini tak lepas dari kuasa Allah. Setiap ujian yang ada pastilah tak akan melebihi kekuatan hamba-hamba. Itulah yang selama ini menjadi kekeuatan terbesar Zahra untuk senantiasa menjadi istri yang sholehah.
Hampir sebulan sudah perubahan sifat Rahmad dirasakan Zahra. Selain itu, acapkali berembus kabar perselingkuhannya dengan salah satu temannya semasa kuliah dulu. Sebagai seorang istri, Zahra merasa semakin tertekan dengan beredarnya berita tersebut. Dia tak tinggal diam, dengan diam-diam dia mulai mencari tahu kebenaran yang harus dia tahu secara langsung. 

***

Siang itu, Zahra menuju kantor suaminya. Sesampainya di kantor, betapa kagetnya Zahra ketika melihat suami yang dicintainya sedang bermesraan dengan wanita yang dia kenal. Wanita itu adalah Rani, teman sebangku kuliahnya dulu.

"Mas Rahmad!!!" Teriakan Zahra berpadu dengan isak tangis yang tidak tertahankan lagi.
Rahmad terkaget-kaget dan tak tahu harus berkata apa. Dia merasa malu karena ketahuan basah sedang bermesraan dengan wanita lain. Belum sempat dia menghampiri istrinya, Zahra bergegas keluar ruangan dengan tangis yang masih membasahi pipi.

Rahmad lekas mengejar Zahra yang pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Zahra masuk kamar dan menutup pintu rapat-rapat.

"Maafkan aku, Ma! Aku tidak bermaksud untuk menduakanmu." Rahmad mengiba dari balik pintu sembari sesekali mengetuknya.

Menjelang malam hari, Zahra masih saja mengurung diri di dalam kamar. Pikirannya berkecamuk, antara mau menceraikan suaminya atau tidak. Sebagai seorang istri, dia sejatinya tidak mau untuk bercerai. Baginya, perceraian adalah hal yang sangat buruk dan dilarang dalam agamanya. Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah berdoa dan berpikir dengan jernih. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak menceraikan Rahmad.

Zahra mengajak suaminya untuk berbicara empat mata. Alangkah kagetnya Rahmad ketika Zahra ingin dia menikahi Rani.

"Kamu ingin aku menikah dengan Rani?"

"Iya, mas. Sebagai seorang istri aku tak ingin Mas Rahmad berbuat dosa. Seorang laki-laki dihalalkan untuk mempunyai lebih dari satu istri. Oleh sebab itu, Zahra mau mas Rahmad menghalalkan hubungan dengan Rani. Zahra rasa, ini adalah jalan yang terbaik." Air mata mulai menetesi pipi Zahra. Sebagai wanita, dia tentu ingin menjadi satu-satunya. Tapi ekcintaannya pada suami serta agar suaminya tidak berbuat dosa terus menerus, dia memutuskan mengambil keputusan ini meski terasa sangat berat.

***

Rahmad akhirnya menikah dengan Rani. Setelah pernikahan itu, Zahra merasa dinomor duakan, terlebih saat ini Rani sedang mengandung seorang anak yang telah lama sangat diharapkan oleh mertua dan suaminya. Mertua Zahra pun lebih memperhatikan Rani daripadanya. Kesedihan yang teramat dalam dirasakan oleh Zahra. Sebuah keangan masa lalu sesekali sering muncul mengingatkan Zahra akan kebahagiaan awal rumah tangga mereka yang kini perlahan mulai hancur. Tapi bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Keputusan Zahra tidak bisa ditarik kembali.

Setahun lebih sudah berlalu semenjak pernikahan Rahmad dan Rani. Rani pun sudah hamil tua dan akan segera melahirkan. Sebuah kejadian tak terduga kembali terjadi. Saat berada di Rumah Sakit, dokter yang menangani kehamilan Rani mengatakan kepada Rahmad bahwa kaehamilan istri keduanya itu mengalami gangguan. Sebuah pilihan yang sulit ketika Dokter mengatakan bahwa kemungkinan Rani akan meninggal jika tetap bersikukuh melahirkan. 

Tapi pilihan berada di tangan Rani. Dia memutuskan untuk tetap melahirkan dengan resiko kehilangan nyawanya. Takdir sudah ditetapkan, akhirnya Rani meninggal setelah melahirkan seorang anak perempuan. Kebahagiaan bercampur kesedihan dirasakan secara bersamaan oleh Rahmad. Tangis yang keluar pun tak jelas asa usulnya, apakah tangis bahagia ataukah berduka.

Semenjak saat itu, anak perempuan yang dilahirkan oleh Rani diasuh oleh Zahra sebagai istri pertama Rahmad. Zahra dengan ikhlas merawat anak itu. Meskipun tidak lahir dari rahimnya sendiri, baginya anak ini adalah titipan dari Allah yang telah menjadi bagian dari keluarganya. Hari demi hari berlalu penuh dengan kebahagiaan. Zahra merasakan kebahagiaan yang luar biasa, sebab Rahmad dan mertuanya kembali seperti dulu lagi. Bagi Zahra, inilah jalan keluar yang diberikan oleh Allah. Keikhlasan dan keputusannya untuk meminta Rahmad menikahi Rani telah menjadi jalan terbaik untuk mengembalikan keharmonisan keluarganya. Setelah sekian lama menanti akhirnya, pondasi rumah tangga Zahra muai kembali kokoh dan siap untuk mengarungi kehidupan yang lebih baik lagi.

GubukAksara, 2015
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Selasa, 17 November 2015

Antara Agama dan Filsafat


Antara Agama dan Filsafat

Agama dan filsafat adalah dua hal yang sangat susah untuk disandingkan, bagaikan air dan api atau air dengan minyak, keduanya adalah dua hal yang saling bersebrangan. Ilmu agama tentu akan bermuara kepada Ketuhanan yang dimana hal ini secara tidak langsung dibuang jauh-jauh di dalam ilmu filsafat. Kebanyakan orang beranggapan bahwa ilmu filsafat adalah sebuah ilmu yang mengkhayal-khayal, abstrak dan di luar nalar.

Seorang filosof akan sangat menggunakan akal mereka dalam untuk melakukan pencarian sesuatu yang terkadang dianggap sepele bagi kebanyakan orang. Pernahkan kita berpikir, darimana kita berasal? Atau berpikir bagaimana bumi ini ada? Sebuah pertanyaan-pertanyaan yang seringkali tidak terlintas di benak manusia, namun justru selalu muncul dibenak para filosof yang pada akhirnya dengan berbekal akal serta nalar, mereka mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Misalnya adalah tentang seorang filosof asal Yunani bernama Democritus yang beranggapan bahwa pada dasarnya perubahan alam semesta ini adalah adanya balok-balok kecil yang saling terikat yang disebut atom. Saat itu belum ada alat secanggih sekarang dimana para ilmuwan fisilka dengan bermodal alat modern mampu untuk memecahkan teori atom dengan data-data ilmiah. Sedangkan di masa Democritus, dia hanya murni menggunakan akal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Itulah hebatnya para filosof, berbekal kehidupan yang mereka jalani dan berbagai pengalaman, perjalanan serta dipandu dengan akal serta nalar, akhirnya mereka mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terasa tidak perlu dijawab oleh sebagian orang dengan penalaran mereka sendiri.

Tidak peduli apakah jawaban mereka benar atau salah. Lalu apa hubungannya dengan agama?
Bagi saya pribadi, tidak ada salahnya kita belajar ilmu filsafat untuk dipadukan dengan agama. Bagaimana bisa? Kita bisa meniru para filosof dimana mereka selalu bertanya dan bertanya akan sesuatu yang mendasar dan sering terlupakan. Bukankah untuk mengenal Tuhan kita juga harus mengenal alam semesta ini? Bukankah alam semesta ini diciptakan salah satunya adalah agar manusia dapat memahami akan keberadaan-Nya? So, jika kita bisa memadukan rasa keingintahunan para filosof dengan keimanan kita terhadap Tuhan, tentu itu akan menjadi hal yang mampu memperbesar rasa keimanan kita terhadap Tuhan. Segala sesuatu itu pastilah diciptakan, segala yang diciptkan pastilah ada yang menciptakan, siapa yang menciptkannya? Kursi dibuat oleh manusia, tapi bagaimana dengan kayu yang digunakan sebagai bahan dasar? Bisakah manusia menciptakan pohon? Ah, inilah cara pandang para filosof yang selalu ingin tahu dan ingin tahu. Ketika kita sebagai orang yang mengakui adanya Tuhan, pastilah keingin tahuan itu akan bermuara kepada pembuktian keberadaan Tuhan itu sendiri.

--BERSAMBUNG--

Yogya, 2015
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Senin, 16 November 2015

Mengingat Kematian=Mengingat Tuhan


Mengingat Kematian=Mengingat Tuhan

Nyayian binatang malam, celoteh jangkrik dan desahan dua ekor cicak yang kawin, melantunkan melodi malam yang sunyi. Sesekali kepakan sayap nyamuk menyentuh telinga, hingga pada akhirnya salah satu dari mereka menyedot darah di tanganku.

"Plakk!!! ... Mati kau! Salah siapa menggigitku."

"Kamu baru saja membunuh nyamuk itu, Le?" tanya Mbah Guru kepadaku.

"Iya, Mbah."

"Bagaimana kalau kamu adalah nyamuk itu, Le?"

Aku hanya diam sembari membayangakan apa yang ditanyakan Mbah Guru.

"Kenapa diam, Le? Pernah tidak kamu berpikir tentang kematian? Ya seperti nasib nyamuk malang yang baru saja kau matikan."

"Kadang-kadang, Mbah."

"Pernah tidak kamu berandai-andai, bagaimana rasanya mati?"

Pertanyaan kali ini sungguh susah untuk dijawab. Bagaimana mungkin kita tahu rasanya sesuatu yang belum pernah kita rasakan? Apa pentingnya pertanyaan seperti itu?

"Coba kamu tahan napas, Le. Tahanlah napas selama yang kamu bisa."

Tanpa basa-basi aku lakukan permintaan Mbah Guru. Selang beberapa menit dada ini rasanya seperti ingin meledak, wajahku mulai memerah dan jantungku serasa ingin pecah saja.

"Bagaimana rasanya? Salah satu indikasi orang mati adalah tidak bernapas lagi, Le. Jika kamu menahan napas terus, maka kamu akan mati!" 

Ah, apa-apa'an ini? Apa yang baru saja dikatakan Mbah Guru masih belum bisa kupahami arah tujuannya.

"Kematian adalah sebuah keharusan, Le. Kenapa nyamuk tadi menyedot darahmu? Jika dia tidak menyedot darahmu, dia tak akan mati di tanganmu! Kenapa nyamuk tadi kau bunuh? Padahal kamu bisa saja membiarkannya. Kenapa, kenapa dan kenapa adalah pertanyaan yang akan muncul namun tidak akan bisa menahan datangnya kematian. Ingat, Le, kematian itu tidak membutuhkan alasan, yang mati ya harus mati. Kapan, dimana dan bagaimana, kematian bisa saja menghampiri."

Kali ini aku mulai paham dengan arah tujuan pertanyaan-pertanyaan Mbah Guru. Bahwa kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja. Semua orang pasti sudah tahu itu.

"Kamu pernah sendirian di kamar saat mati lampu, Le? Apa yang kamu rasakan?"

"Pernah, Mbah. Rasanya gak enak sama sekali. Sunyi, kesepian dan kadang-kadang teringat kesalahan-kesalahan yang lalu."

"Alhamdulillah. Setidaknya besuk kamu di alam kubur juga akan sendirian dalam kegelapan, Le. Tapi bedanya, ketika sudah berkalang tanah, mengingat kesalahan yang membawa penyesalan tidak akan pernah ada gunanya, sebab waktumu sudah habis dan tidak bisa lagi memperbaikinya. Kamu pernah berhutang kepada orang, Le?

Jiwaku kini benar-benar terasa dibolak-balikkan oleh pertanyaan dan penjelasan dari Mbah Guru.

"Pernah, Mbah."

"Pernah tidak kamu memikirkan berapa banyak dosa yang pernah kamu lakukan? Jika saja dosa itu seperti hutangmu kepada manusia, pastilah kamu akan berpikir keras untuk mengembalikan hutang itu. Dosa adalah hutangmu kepada Tuhan, Le. Kelak Dia akan menghitung berapa hutangmu selama hidup. Dan pahala adalah hartamu, bukankah jika harta kita lebih banyak dari hutang, kita bisa menggunakan untuk melunasinya?. Tapi bagaimana jika harta kita lebih sedikit?"

Sunyi! Suasana begitu hening dan pikiranku melayang-layang entah kemana. Dada mulai sesak, degup jantungku berlari-lari seperti hewan buruan yang menghindari serbuan para pemburu.

"Ingatlah, Le. Setiap manusia akan menemui kematian. Kematian tidak mempunyai kriteria mana yang akan dipilih untuk mati, tak peduli dia kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, sedang shalat atau maksiat, sedang di masjid atau di tempat pelacuran, jika kematian itu sudah tiba, ya matilah kita. Apa kamu mau jika harus mati saat ini juga?"

"Tidak, Mbah. Aku belum siap. Pahalaku belum cukup rasanya."

"Tapi bagaimana kalau Tuhan menghendaki kau mati saat ini juga? Siap tidak siap, jika Dia sudah menakdirkan, mau tidak mau kamu harus mati, Le. Ingat itu!!! Sering-seringlah mengingat kematian sebab mengingat kematian=mengingat Tuhan."

Yogya, 2015
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com