. Mengingat Kematian=Mengingat Tuhan ~ DetikSisa.com

Senin, 16 November 2015

Mengingat Kematian=Mengingat Tuhan


Mengingat Kematian=Mengingat Tuhan

Nyayian binatang malam, celoteh jangkrik dan desahan dua ekor cicak yang kawin, melantunkan melodi malam yang sunyi. Sesekali kepakan sayap nyamuk menyentuh telinga, hingga pada akhirnya salah satu dari mereka menyedot darah di tanganku.

"Plakk!!! ... Mati kau! Salah siapa menggigitku."

"Kamu baru saja membunuh nyamuk itu, Le?" tanya Mbah Guru kepadaku.

"Iya, Mbah."

"Bagaimana kalau kamu adalah nyamuk itu, Le?"

Aku hanya diam sembari membayangakan apa yang ditanyakan Mbah Guru.

"Kenapa diam, Le? Pernah tidak kamu berpikir tentang kematian? Ya seperti nasib nyamuk malang yang baru saja kau matikan."

"Kadang-kadang, Mbah."

"Pernah tidak kamu berandai-andai, bagaimana rasanya mati?"

Pertanyaan kali ini sungguh susah untuk dijawab. Bagaimana mungkin kita tahu rasanya sesuatu yang belum pernah kita rasakan? Apa pentingnya pertanyaan seperti itu?

"Coba kamu tahan napas, Le. Tahanlah napas selama yang kamu bisa."

Tanpa basa-basi aku lakukan permintaan Mbah Guru. Selang beberapa menit dada ini rasanya seperti ingin meledak, wajahku mulai memerah dan jantungku serasa ingin pecah saja.

"Bagaimana rasanya? Salah satu indikasi orang mati adalah tidak bernapas lagi, Le. Jika kamu menahan napas terus, maka kamu akan mati!" 

Ah, apa-apa'an ini? Apa yang baru saja dikatakan Mbah Guru masih belum bisa kupahami arah tujuannya.

"Kematian adalah sebuah keharusan, Le. Kenapa nyamuk tadi menyedot darahmu? Jika dia tidak menyedot darahmu, dia tak akan mati di tanganmu! Kenapa nyamuk tadi kau bunuh? Padahal kamu bisa saja membiarkannya. Kenapa, kenapa dan kenapa adalah pertanyaan yang akan muncul namun tidak akan bisa menahan datangnya kematian. Ingat, Le, kematian itu tidak membutuhkan alasan, yang mati ya harus mati. Kapan, dimana dan bagaimana, kematian bisa saja menghampiri."

Kali ini aku mulai paham dengan arah tujuan pertanyaan-pertanyaan Mbah Guru. Bahwa kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja. Semua orang pasti sudah tahu itu.

"Kamu pernah sendirian di kamar saat mati lampu, Le? Apa yang kamu rasakan?"

"Pernah, Mbah. Rasanya gak enak sama sekali. Sunyi, kesepian dan kadang-kadang teringat kesalahan-kesalahan yang lalu."

"Alhamdulillah. Setidaknya besuk kamu di alam kubur juga akan sendirian dalam kegelapan, Le. Tapi bedanya, ketika sudah berkalang tanah, mengingat kesalahan yang membawa penyesalan tidak akan pernah ada gunanya, sebab waktumu sudah habis dan tidak bisa lagi memperbaikinya. Kamu pernah berhutang kepada orang, Le?

Jiwaku kini benar-benar terasa dibolak-balikkan oleh pertanyaan dan penjelasan dari Mbah Guru.

"Pernah, Mbah."

"Pernah tidak kamu memikirkan berapa banyak dosa yang pernah kamu lakukan? Jika saja dosa itu seperti hutangmu kepada manusia, pastilah kamu akan berpikir keras untuk mengembalikan hutang itu. Dosa adalah hutangmu kepada Tuhan, Le. Kelak Dia akan menghitung berapa hutangmu selama hidup. Dan pahala adalah hartamu, bukankah jika harta kita lebih banyak dari hutang, kita bisa menggunakan untuk melunasinya?. Tapi bagaimana jika harta kita lebih sedikit?"

Sunyi! Suasana begitu hening dan pikiranku melayang-layang entah kemana. Dada mulai sesak, degup jantungku berlari-lari seperti hewan buruan yang menghindari serbuan para pemburu.

"Ingatlah, Le. Setiap manusia akan menemui kematian. Kematian tidak mempunyai kriteria mana yang akan dipilih untuk mati, tak peduli dia kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, sedang shalat atau maksiat, sedang di masjid atau di tempat pelacuran, jika kematian itu sudah tiba, ya matilah kita. Apa kamu mau jika harus mati saat ini juga?"

"Tidak, Mbah. Aku belum siap. Pahalaku belum cukup rasanya."

"Tapi bagaimana kalau Tuhan menghendaki kau mati saat ini juga? Siap tidak siap, jika Dia sudah menakdirkan, mau tidak mau kamu harus mati, Le. Ingat itu!!! Sering-seringlah mengingat kematian sebab mengingat kematian=mengingat Tuhan."

Yogya, 2015
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

0 komentar:

Posting Komentar