Nyayian binatang malam,
celoteh jangkrik dan desahan dua ekor cicak yang kawin, melantunkan
melodi malam yang sunyi. Sesekali kepakan sayap nyamuk menyentuh
telinga, hingga pada akhirnya salah satu dari mereka menyedot darah di
tanganku.
"Plakk!!! ... Mati kau! Salah siapa menggigitku."
"Kamu baru saja membunuh nyamuk itu, Le?" tanya Mbah Guru kepadaku.
"Iya, Mbah."
"Bagaimana kalau kamu adalah nyamuk itu, Le?"
Aku hanya diam sembari membayangakan apa yang ditanyakan Mbah Guru.
"Kenapa diam, Le? Pernah tidak kamu berpikir tentang kematian? Ya seperti nasib nyamuk malang yang baru saja kau matikan."
"Kadang-kadang, Mbah."
"Pernah tidak kamu berandai-andai, bagaimana rasanya mati?"
Pertanyaan kali ini sungguh susah untuk dijawab. Bagaimana mungkin kita
tahu rasanya sesuatu yang belum pernah kita rasakan? Apa pentingnya
pertanyaan seperti itu?
"Coba kamu tahan napas, Le. Tahanlah napas selama yang kamu bisa."
Tanpa basa-basi aku lakukan permintaan Mbah Guru. Selang beberapa menit
dada ini rasanya seperti ingin meledak, wajahku mulai memerah dan
jantungku serasa ingin pecah saja.
"Bagaimana rasanya? Salah satu
indikasi orang mati adalah tidak bernapas lagi, Le. Jika kamu menahan
napas terus, maka kamu akan mati!"
Ah, apa-apa'an ini? Apa yang baru saja dikatakan Mbah Guru masih belum bisa kupahami arah tujuannya.
"Kematian adalah sebuah keharusan, Le. Kenapa nyamuk tadi menyedot
darahmu? Jika dia tidak menyedot darahmu, dia tak akan mati di tanganmu!
Kenapa nyamuk tadi kau bunuh? Padahal kamu bisa saja membiarkannya.
Kenapa, kenapa dan kenapa adalah pertanyaan yang akan muncul namun tidak
akan bisa menahan datangnya kematian. Ingat, Le, kematian itu tidak
membutuhkan alasan, yang mati ya harus mati. Kapan, dimana dan
bagaimana, kematian bisa saja menghampiri."
Kali ini aku mulai
paham dengan arah tujuan pertanyaan-pertanyaan Mbah Guru. Bahwa kematian
bisa datang kapan saja dan dimana saja. Semua orang pasti sudah tahu
itu.
"Kamu pernah sendirian di kamar saat mati lampu, Le? Apa yang kamu rasakan?"
"Pernah, Mbah. Rasanya gak enak sama sekali. Sunyi, kesepian dan kadang-kadang teringat kesalahan-kesalahan yang lalu."
"Alhamdulillah. Setidaknya besuk kamu di alam kubur juga akan sendirian
dalam kegelapan, Le. Tapi bedanya, ketika sudah berkalang tanah,
mengingat kesalahan yang membawa penyesalan tidak akan pernah ada
gunanya, sebab waktumu sudah habis dan tidak bisa lagi memperbaikinya.
Kamu pernah berhutang kepada orang, Le?
Jiwaku kini benar-benar terasa dibolak-balikkan oleh pertanyaan dan penjelasan dari Mbah Guru.
"Pernah, Mbah."
"Pernah tidak kamu memikirkan berapa banyak dosa yang pernah kamu
lakukan? Jika saja dosa itu seperti hutangmu kepada manusia, pastilah
kamu akan berpikir keras untuk mengembalikan hutang itu. Dosa adalah
hutangmu kepada Tuhan, Le. Kelak Dia akan menghitung berapa hutangmu
selama hidup. Dan pahala adalah hartamu, bukankah jika harta kita lebih
banyak dari hutang, kita bisa menggunakan untuk melunasinya?. Tapi
bagaimana jika harta kita lebih sedikit?"
Sunyi! Suasana begitu
hening dan pikiranku melayang-layang entah kemana. Dada mulai sesak,
degup jantungku berlari-lari seperti hewan buruan yang menghindari
serbuan para pemburu.
"Ingatlah, Le. Setiap manusia akan menemui
kematian. Kematian tidak mempunyai kriteria mana yang akan dipilih untuk
mati, tak peduli dia kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau
perempuan, sedang shalat atau maksiat, sedang di masjid atau di tempat
pelacuran, jika kematian itu sudah tiba, ya matilah kita. Apa kamu mau
jika harus mati saat ini juga?"
"Tidak, Mbah. Aku belum siap. Pahalaku belum cukup rasanya."
"Tapi bagaimana kalau Tuhan menghendaki kau mati saat ini juga? Siap
tidak siap, jika Dia sudah menakdirkan, mau tidak mau kamu harus mati,
Le. Ingat itu!!! Sering-seringlah mengingat kematian sebab mengingat
kematian=mengingat Tuhan."
Yogya, 2015







0 komentar:
Posting Komentar