Hari ini, 24 September 2015 menjadi hari yang sama saja dengan hari-hari kemarin. Seiring berjalannya waktu dan langkah menuju kematian, selama itu pula berbagai peristiwa mengiringi. Entah sudah berapa banyak pelajaran yang diberikan setiap detik demi detik kehidupan ini, sebanyak itu pula pilihan disediakan oleh Sang Illahi.
Wahai saudaraku, terkadang hidup ini terasa sangat hambar. Hari demi hari berganti tanpa ada yang spesial di dalamnya. Apakah memang seperti itu? TIDAK, saudaraku. Hidup ini indah, bahkan sangat indah. Jikalau memang terkadang terasa hambar, itu bukan karena kehidupan yang hambar, akan tetapi karena diri kita sendiri yang belum bisa memahami kehidupan.
Allah berfirman, "Lalu, nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih engkau dustakan?". Tentu apa yang disampaikan di dalam ayat tersebut sangat perlu untuk kita renungkan. Ketika Sang Rabb bertanya, pastilah dibalik pertanyaan dan jawaban atas pertanyaan tersebut akan mengandung arti yang dalam, memberikan perenungan serta menjadi bahan kajian yang perlu untuk dijawab dengan kesungguhan serta kejujuran. Nikmat mana yang masih kita dustakan? Terlalu banyak dan tak terhitung nikmat yang sudah diberikan oleh Allah kepada umatnya hingga kita tak akan pernah mampu untuk menghitungya, bahkan seorang profesor matematika pun saya yakin tak akan bisa. Lantas, dari sekian banyak nikmat tersebut, seberapa banyakkah yang kita dustakan?
Mendustakan nikmat Allah itulah yang sesungguhnya membuat kita merasa bahwa hidup ini hambar. Kita lupa bahwa nikmat Allah selalu ada setiap detik, dan kita lupa untuk bersyukur akan nikmat tersebut. Ya, bersyukur! Bersyukur tidak hanya cukup dilisankan dengan mengucap "Alhamdulillah". Rasa syukur yang hakiki haruslah direalisasikan dalam sebuah perbuatan. Ini yang sering kita lupa, mensyukuri sesuatu hendaknya haruk menggunakan sesuatu tersebut untuk kebaikan, dalam arti kebaikan menurut Allah. Misalnya, kita diberikan harta yang berlimpah, kita tidak cukup hanya bersyukur dan mengucap Alhamdulillah. Akan tetapi hendaknya harta dari Allah tersebut kita gunakan sebagiannya untuk kebaikan. Bersadaqah, berkurban, menolong sesama, menyantuni anak yatim dan lain sebagainya. Bukan justru untuk berfoya-foya serta menyombongkan diri. Jika harta itu kita gunakan untuk keburukan, maka walhasil hidup ini akan terasa hambar meski serba kecukupan.
Wahai saudaraku, ketika saya menulis artikel ini, saat itu ula saya merasakan hidup ini terasa sangat hambar. Kenapa? Sudah tiga tahun saya bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Hari ini adalah bertepatan dengan hari raya Idul Kurban. Sudah 3 kali selama bekerja saya menjumpai Idul Adha, tapi selama itu pula belum pernah sekalipun ikut berkurban. Bukan sombong, untuk membeisatu ekor kambing dalam setahun sejatinya bukanlah hal yang sulit dengan gaji saya saat ini. Itulah mengapa saya merasakan kehambaran hidup. Semalaman diri ini diliputi rasa bersalah. Semalaman tidak bisa tidur dikarenakan telah mendustakan nikmat Allah. Semoga saudaraku semua tidak seperti saya saat ini dan semoga Allah selalu mengingatkan kita agar tidak lupa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Aamiin






0 komentar:
Posting Komentar