Jalaludin Rumi adalah salah satu sastrawan terkemuka. Bagi saya setiap puisi yang disajikan mempunyai daya magis tersendiri serta memiliki keunikan serta ciri khas berupa kesufian. Jalaludin Rumi atau nama lengkapnya Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin
Hasin al Khattabi al-Bakri adalah sang pujangga dari tanah Persia.
Selain penyair dia juga tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya dia
lahir pada 30 September 1207 Masehi di Balkh sebuah kota kecil di kota
Khurasan, Afghanistan dan meninggal pada 17 Desember 1273 Masehi di
Konya (Turki).
Dalam setiap puisinya, tidak hanya kata-kata indah yang disajikan, akan tetapi makna yang terkandung di dalamnya sungguh menentramkan jiwa dan pikiran. Jika kita hanya melihat kulitnya saja, tanpa mau mencoba untuk memakan isinya,maka saya rasa puisi Jalaludin Rumi tidak akan terasa istimewa.
Inilah beberapa puisi yang saya pilih, semoga dapat menjadi bahan renungan. Perlu membaca berulang agar kita tidak salah dalam menafsirkan apa yang terkandung di dalamnya mengingat puisi-puisi sufi acapkali akan memberikan efek dua sisi kepada pembacanya. Baca, resapi dan reungkan. Semoga bermanfaat.
Jalan Tasawuf
Sumbatlah telinga nafsumu, yang bagai kapas menutupi
Kesadaranmu dan membuat tuli telinga batinmu.
Jadilah dirimu tanpa telinga, tanpa rasa, tanpa pemikiran,
Dan dengarkanlah seruan Tuhan, ”Kembalilah!”
Atas perjalanan lahir, kata dan tindakan kita,
Di atas langitlah perjalanan batin kita
Tubuh berjalan di atas jalannya yang berdebu
Ruh berjalan, bagaikan Yesus, di atas lautan.
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. I, 566
Kesadaranmu dan membuat tuli telinga batinmu.
Jadilah dirimu tanpa telinga, tanpa rasa, tanpa pemikiran,
Dan dengarkanlah seruan Tuhan, ”Kembalilah!”
Atas perjalanan lahir, kata dan tindakan kita,
Di atas langitlah perjalanan batin kita
Tubuh berjalan di atas jalannya yang berdebu
Ruh berjalan, bagaikan Yesus, di atas lautan.
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. I, 566
Petunjuk Spiritual
Nabi bersabda kepada ’Ali: "Wahai 'Ali, engkau adalah pahlawan yang gagah-berani, engkau adalah Singa Tuhan,
Namun jangan sandarkan dirimu pada keberanian: masuklah ke dalam naungan pohon-Palem harapan.
Masuklah ke dalam naungan (pelindung) Orang Bijak yang tak seorang pun dapat menghentikannya.
Bayangannya di atas bumi ini bagai Pegunungan Qaf, ruhnya bagaikan Simurgh yang membumbung tinggi di angkasa.
Meski kupanjatkan pujiannya sampai Hari Kebangkitan, janganlah mencari tujuan kepadanya.
Matahari Ilahi menyelubungi diri-Nya dalam Manusia: fahamilah rahasia ini, dan Tuhan benar-benar mengetahui apa itu kebenaran.
Wahai, ’Ali, di balik semua amal pengabdian di Jalan adalah bayangan Hamba Tuhan.
Apabila orang lain mencari keselamatan dengan menunaikan kewajiban-kewajiban agama,
Pergilah kau, carilah perlindungan dalam naungan Orang Bijak yang melawan musuh di dalam dirimu.”
Setelah diterima oleh Pir, persembahkanlah dirimu kepadanya: tunduklah, seperti Musa, kepada wewenang Khidir.
Apapun yang mungkin Khidir perintahkan kepadamu, embanlah dengan sabar, agar ia jangan berkata: ”Pergilah, di sini kita berpisah.”
Meskipun dia menenggelamkan perahu, diamlah! Sekalipun dia membunuh seorang anak, jangan renggut rambutmu!
Tuhan telah melukiskan tangannya sebagai tangan-Nya sendiri, karena Dia telah berfirman, ”Tangan Tuhan di atas tangan mereka.”
”Tangan Tuhan” ini membunuh muridnya, kemudian membawanya masuk menuju kehidupan kekal-abadi.
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. I, 2950
Namun jangan sandarkan dirimu pada keberanian: masuklah ke dalam naungan pohon-Palem harapan.
Masuklah ke dalam naungan (pelindung) Orang Bijak yang tak seorang pun dapat menghentikannya.
Bayangannya di atas bumi ini bagai Pegunungan Qaf, ruhnya bagaikan Simurgh yang membumbung tinggi di angkasa.
Meski kupanjatkan pujiannya sampai Hari Kebangkitan, janganlah mencari tujuan kepadanya.
Matahari Ilahi menyelubungi diri-Nya dalam Manusia: fahamilah rahasia ini, dan Tuhan benar-benar mengetahui apa itu kebenaran.
Wahai, ’Ali, di balik semua amal pengabdian di Jalan adalah bayangan Hamba Tuhan.
Apabila orang lain mencari keselamatan dengan menunaikan kewajiban-kewajiban agama,
Pergilah kau, carilah perlindungan dalam naungan Orang Bijak yang melawan musuh di dalam dirimu.”
Setelah diterima oleh Pir, persembahkanlah dirimu kepadanya: tunduklah, seperti Musa, kepada wewenang Khidir.
Apapun yang mungkin Khidir perintahkan kepadamu, embanlah dengan sabar, agar ia jangan berkata: ”Pergilah, di sini kita berpisah.”
Meskipun dia menenggelamkan perahu, diamlah! Sekalipun dia membunuh seorang anak, jangan renggut rambutmu!
Tuhan telah melukiskan tangannya sebagai tangan-Nya sendiri, karena Dia telah berfirman, ”Tangan Tuhan di atas tangan mereka.”
”Tangan Tuhan” ini membunuh muridnya, kemudian membawanya masuk menuju kehidupan kekal-abadi.
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. I, 2950
Perasaan dan Fikiran
Zaid dipukul keras dari belakang. Baru saja ia mau membalas,
Yang memukulnya berteriak, ”Biarkanlah aku bertanya dahulu: pertama jawablah, sudah itu pukullah aku.
Aku memukul kudukmu, dan terdengar bunyi tamparan. Sekarang aku bertanya ramah kepadamu –
’Apakah suara itu disebabkan oleh tanganku atau oleh lehermu. O kebanggan bangsawan?”
Zaid menjawab, ”Rasa sakit yang kuderita membuatku tiada waktu untuk memikirkan masalah ini.
Pikirkan sendiri: oranng yang merasa kesakitan tidak dapat memikirkan masalah seperti ini.”
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. III, 1380
Yang memukulnya berteriak, ”Biarkanlah aku bertanya dahulu: pertama jawablah, sudah itu pukullah aku.
Aku memukul kudukmu, dan terdengar bunyi tamparan. Sekarang aku bertanya ramah kepadamu –
’Apakah suara itu disebabkan oleh tanganku atau oleh lehermu. O kebanggan bangsawan?”
Zaid menjawab, ”Rasa sakit yang kuderita membuatku tiada waktu untuk memikirkan masalah ini.
Pikirkan sendiri: oranng yang merasa kesakitan tidak dapat memikirkan masalah seperti ini.”
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. III, 1380
Pendakian Jiwa
Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insan.
Mengapa aku mesti takut? Bilakah aku menjadi rendah karena kematian?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insan, untuk membumbung
Bersama para Malaikat yang direstui; bahkan dari tingkat malaikat pun
Aku harus wafat: Segala akan binasa kecuali Tuhan.
Ketika jiwa malaikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi sesuatu yang tak pernah terperikan oleh pikiran.
Oh, biarkanlah aku tiada! Karena Ketiadaan
Membisikkan nada dalam telinga. ”Sesungguhnya kepada-Nya-lah kita kembali.”
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insan.
Mengapa aku mesti takut? Bilakah aku menjadi rendah karena kematian?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insan, untuk membumbung
Bersama para Malaikat yang direstui; bahkan dari tingkat malaikat pun
Aku harus wafat: Segala akan binasa kecuali Tuhan.
Ketika jiwa malaikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi sesuatu yang tak pernah terperikan oleh pikiran.
Oh, biarkanlah aku tiada! Karena Ketiadaan
Membisikkan nada dalam telinga. ”Sesungguhnya kepada-Nya-lah kita kembali.”
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. III, 3901
Saksi Tuhan
Tuhan tidaklah mencipta di bumi atau di langit yang tinggi sesuatu yang lebih gaib daripada ruh manusia.
Dia telah menyingkapkan rahasia segala sesuatu, baik yang basah maupun yang kering, namun Dia menutup rahasia ruh: “ia termasuk urusan Tuhan-ku.”
Karena penglihatan Saksi yang mulia melihat ruh itu, maka sia-sialah tetap bersembunyi daripadanya.
Tuhan disebut “Yang Maha Adil”, dan Saksi itu milik-Nya: Saksi yang adil itu adalah mata Sang Kekasih.
Sasaran Pandangan Tuhan di kedua dunia adalah kesucian hati: tatapan Sang Raja tertuju pada orang yang terkasih.
Rahasia cinta-kasih-Nya yang beramain-main dengan kekasih-Nya adalah sumber dari seluruh tabir yang telah Dia ciptakan.
Oleh karena itu Tuhan kita Yang Maha Pengasih berfirman kepada Nabi pada malam mi’raj: “Kalau bukan karena engkau niscaya tidaklah Kuciptakan alam.”
Dia telah menyingkapkan rahasia segala sesuatu, baik yang basah maupun yang kering, namun Dia menutup rahasia ruh: “ia termasuk urusan Tuhan-ku.”
Karena penglihatan Saksi yang mulia melihat ruh itu, maka sia-sialah tetap bersembunyi daripadanya.
Tuhan disebut “Yang Maha Adil”, dan Saksi itu milik-Nya: Saksi yang adil itu adalah mata Sang Kekasih.
Sasaran Pandangan Tuhan di kedua dunia adalah kesucian hati: tatapan Sang Raja tertuju pada orang yang terkasih.
Rahasia cinta-kasih-Nya yang beramain-main dengan kekasih-Nya adalah sumber dari seluruh tabir yang telah Dia ciptakan.
Oleh karena itu Tuhan kita Yang Maha Pengasih berfirman kepada Nabi pada malam mi’raj: “Kalau bukan karena engkau niscaya tidaklah Kuciptakan alam.”
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. VI, 2877
"Matilah Sebelum Mati"
Sang Nabi bersabda, “Wahai pencari rahasia-rahasia, hendaklah engkau melihat orang mati yang hidup,
Yang berjalan-jalan di atas bumi, seperti orang yang masih hidup; namun ruhnya bertempat tinggal di Surga,
Karena dia telah dipindahkan sebelum mati dan tidak akan dipindahkan ketika dia mati-
Suatu rahasia di luar pemerian, hanya dimengerti oleh orang yang sedang sekarat-
Apabila ada orang yang ingin melihat orang mati yang masih kelihatan berjalan di atas bumi,
Biarkanlah dia melihat Abu Bakr, yang saleh, yang karena kebajikannya menjadi seorang saksi yang benar bagi Tuhan menjadi Pangeran kebangkitan.”
Muhammad lahir dua kali di dunia ini: dia mati terhadap semua yang terkadang tiada dan ada: dialah ratusan kebangktan kembali di sini dan kini
Sering mereka bertanya kepadanya, “Berapa jauhkah jalan menuju Kebangkitan?”
Dan dia akan menjawab dengan kefasihan bisu, “Adakah seseorang yang bertanya bahwa akulah Kebangkitan itu?”
Jadilah Kebangkitan dan lihatlah juga: menjadi adalah syarat mutlak untuk melihat hakekat segala sesuatu.
Apakah ia terang atau gelap, sebelum engkau menjadi ia engkau tak akan pernah mengetahuinya secara sempurna.
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas. VI, 742
Cinta Dalam Ketiadaan
Betapa tak ’kan sedih aku, bagai malam, tanpa hari-Nya serta keindahan wajah hari terang-Nya?
Rasa pahit-Nya terasa manis bagi jiwaku: semoga hatiku menjadi korban bagi Kekasih yang membuat pilu hatiku!
Aku sedih dan tersiksa karena Cinta demi kebahagiaan Rajaku yang tiada bandingnya.
Titk air mata demi Dia adalah mutiara, meski orang menyangka sekedar air mata.
Kukeluhkan jiwa dari jiwaku, namun sebenarnya aku tidak mengeluh: aku cuma berkisah.
Hatiku bilang teriksa oleh-Nya, dan kutertawakan seluruh dalihnya.
Perlakukanlah aku dengan benar, O Yang Maha Benar, O Engkaulah Mimbar Agung, dan akulah ambang pintu-Mu!
Di manakah sebenarnya ambang pintu dan mimbar itu? Di manakah sang Kekasih, di manakah “kita” dan “aku”?
O Engkau, Jiwa yang bebas dari “kita” dan “aku”, O Engkaulah hakekat ruh lelaki dan wanita.
Ketika lelaki dan wanita menjadi satu, Engkau-lah Yang Satu itu; ketika bagian-bagian musnah, Engkau-lah Kesatuan itu.
Engkau ciptakan ”aku” dan ”kita” supaya memainkan puji-pujian bersama diri-Mu,
Hingga seluruh ”aku” dan ”engkau” dapat menjadi satu jiwa serta akhirnya lebur dalam sang Kekasih.
Rasa pahit-Nya terasa manis bagi jiwaku: semoga hatiku menjadi korban bagi Kekasih yang membuat pilu hatiku!
Aku sedih dan tersiksa karena Cinta demi kebahagiaan Rajaku yang tiada bandingnya.
Titk air mata demi Dia adalah mutiara, meski orang menyangka sekedar air mata.
Kukeluhkan jiwa dari jiwaku, namun sebenarnya aku tidak mengeluh: aku cuma berkisah.
Hatiku bilang teriksa oleh-Nya, dan kutertawakan seluruh dalihnya.
Perlakukanlah aku dengan benar, O Yang Maha Benar, O Engkaulah Mimbar Agung, dan akulah ambang pintu-Mu!
Di manakah sebenarnya ambang pintu dan mimbar itu? Di manakah sang Kekasih, di manakah “kita” dan “aku”?
O Engkau, Jiwa yang bebas dari “kita” dan “aku”, O Engkaulah hakekat ruh lelaki dan wanita.
Ketika lelaki dan wanita menjadi satu, Engkau-lah Yang Satu itu; ketika bagian-bagian musnah, Engkau-lah Kesatuan itu.
Engkau ciptakan ”aku” dan ”kita” supaya memainkan puji-pujian bersama diri-Mu,
Hingga seluruh ”aku” dan ”engkau” dapat menjadi satu jiwa serta akhirnya lebur dalam sang Kekasih.
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Mas I. 1776
Kepadamu Aku Menghadap
O Kau yang menghibur jiwaku di kala duka
O kau harta ruhku di kala pahitnya maut datang mencengkam!
Yang khayalan tak sanggup menduga, dan pengertian tak sampai menyaksikan,
Mengunjungi jiwaku dari-Mu; maka kepada-Mu aku menghadapkan doaku.
Dengan keagungan-Mu ke kehidupan abadi kutetapkan tatapan mesraku,
Kecuali, O Raja, bila kemegahan duniawi menyesatkanku.
Pertolongan dia yang membawa kabar gembira dari-Mu,
Meski tanpa panggilan-Mu, bagi telingaku lebih merdu daripada lagu-lagu.
Walau Karunia yang tak pernah berhenti 'kan menawarkan kerajaan,
Walau Harta benda yang Tersembunyi di hadapanku ’kan diletakkan,
Aku akan bersujud dengan seluruh jiwaku, 'kan kuletakkan wajahku pada debu
Aku akan berseru, "Dari semuanya ini, cinta dari yang Satu itulah yang kudambakan!"
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Diwan, S P, VI
O kau harta ruhku di kala pahitnya maut datang mencengkam!
Yang khayalan tak sanggup menduga, dan pengertian tak sampai menyaksikan,
Mengunjungi jiwaku dari-Mu; maka kepada-Mu aku menghadapkan doaku.
Dengan keagungan-Mu ke kehidupan abadi kutetapkan tatapan mesraku,
Kecuali, O Raja, bila kemegahan duniawi menyesatkanku.
Pertolongan dia yang membawa kabar gembira dari-Mu,
Meski tanpa panggilan-Mu, bagi telingaku lebih merdu daripada lagu-lagu.
Walau Karunia yang tak pernah berhenti 'kan menawarkan kerajaan,
Walau Harta benda yang Tersembunyi di hadapanku ’kan diletakkan,
Aku akan bersujud dengan seluruh jiwaku, 'kan kuletakkan wajahku pada debu
Aku akan berseru, "Dari semuanya ini, cinta dari yang Satu itulah yang kudambakan!"
Puisi Oleh: Jalaluddin Rumi, Diwan, S P, VI
Masih banyak lagi puisi beliau yang layak untuk direnungkan. Ingatlah bahwa puisi bukanlah sekadar tatanan kata indah tanpa makna. Makna yang terkandung di dalam sebuah puisi haruslah kuat dan memberikan efek positif bagi pembacanya, dengan demikian puisi yang diciptakan akan memberikan kebaikan yang terus mengalir kepada penulisnya. Salam pena, Saudaraku.






0 komentar:
Posting Komentar