Agama dan filsafat adalah dua hal
yang sangat susah untuk disandingkan, bagaikan air dan api atau air
dengan minyak, keduanya adalah dua hal yang saling bersebrangan. Ilmu
agama tentu akan bermuara kepada Ketuhanan yang dimana hal ini secara
tidak langsung dibuang jauh-jauh di dalam ilmu filsafat. Kebanyakan
orang beranggapan bahwa ilmu filsafat adalah sebuah ilmu yang
mengkhayal-khayal, abstrak dan di luar nalar.
Seorang filosof akan sangat menggunakan
akal mereka dalam untuk melakukan pencarian sesuatu yang terkadang
dianggap sepele bagi kebanyakan orang. Pernahkan kita berpikir, darimana
kita berasal? Atau berpikir bagaimana bumi ini ada? Sebuah
pertanyaan-pertanyaan yang seringkali tidak terlintas di benak manusia,
namun justru selalu muncul dibenak para filosof yang pada akhirnya
dengan berbekal akal serta nalar, mereka mencoba untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Misalnya adalah tentang seorang filosof asal Yunani bernama Democritus
yang beranggapan bahwa pada dasarnya perubahan alam semesta ini adalah
adanya balok-balok kecil yang saling terikat yang disebut atom. Saat itu
belum ada alat secanggih sekarang dimana para ilmuwan fisilka dengan
bermodal alat modern mampu untuk memecahkan teori atom dengan data-data
ilmiah. Sedangkan di masa Democritus, dia hanya murni menggunakan akal
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Itulah hebatnya para filosof,
berbekal kehidupan yang mereka jalani dan berbagai pengalaman,
perjalanan serta dipandu dengan akal serta nalar, akhirnya mereka mampu
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terasa tidak perlu dijawab oleh
sebagian orang dengan penalaran mereka sendiri.
Tidak peduli apakah jawaban mereka benar atau salah. Lalu apa hubungannya dengan agama?
Bagi saya pribadi, tidak ada salahnya kita belajar ilmu filsafat untuk dipadukan dengan agama. Bagaimana bisa? Kita bisa meniru para filosof dimana mereka selalu bertanya dan bertanya akan sesuatu yang mendasar dan sering terlupakan. Bukankah untuk mengenal Tuhan kita juga harus mengenal alam semesta ini? Bukankah alam semesta ini diciptakan salah satunya adalah agar manusia dapat memahami akan keberadaan-Nya? So, jika kita bisa memadukan rasa keingintahunan para filosof dengan keimanan kita terhadap Tuhan, tentu itu akan menjadi hal yang mampu memperbesar rasa keimanan kita terhadap Tuhan. Segala sesuatu itu pastilah diciptakan, segala yang diciptkan pastilah ada yang menciptakan, siapa yang menciptkannya? Kursi dibuat oleh manusia, tapi bagaimana dengan kayu yang digunakan sebagai bahan dasar? Bisakah manusia menciptakan pohon? Ah, inilah cara pandang para filosof yang selalu ingin tahu dan ingin tahu. Ketika kita sebagai orang yang mengakui adanya Tuhan, pastilah keingin tahuan itu akan bermuara kepada pembuktian keberadaan Tuhan itu sendiri.
--BERSAMBUNG--
Yogya, 2015
Tidak peduli apakah jawaban mereka benar atau salah. Lalu apa hubungannya dengan agama?
Bagi saya pribadi, tidak ada salahnya kita belajar ilmu filsafat untuk dipadukan dengan agama. Bagaimana bisa? Kita bisa meniru para filosof dimana mereka selalu bertanya dan bertanya akan sesuatu yang mendasar dan sering terlupakan. Bukankah untuk mengenal Tuhan kita juga harus mengenal alam semesta ini? Bukankah alam semesta ini diciptakan salah satunya adalah agar manusia dapat memahami akan keberadaan-Nya? So, jika kita bisa memadukan rasa keingintahunan para filosof dengan keimanan kita terhadap Tuhan, tentu itu akan menjadi hal yang mampu memperbesar rasa keimanan kita terhadap Tuhan. Segala sesuatu itu pastilah diciptakan, segala yang diciptkan pastilah ada yang menciptakan, siapa yang menciptkannya? Kursi dibuat oleh manusia, tapi bagaimana dengan kayu yang digunakan sebagai bahan dasar? Bisakah manusia menciptakan pohon? Ah, inilah cara pandang para filosof yang selalu ingin tahu dan ingin tahu. Ketika kita sebagai orang yang mengakui adanya Tuhan, pastilah keingin tahuan itu akan bermuara kepada pembuktian keberadaan Tuhan itu sendiri.
--BERSAMBUNG--
Yogya, 2015







0 komentar:
Posting Komentar