"Kenapa kau tega
melakukan ini padaku, Mas? Apa salahku?" Gerimis tipis mulai membasahi
pipi Zahra. Sore itu, hatinya serasa disayat-sayat pedang nan tajam.
Bagaimana tidak, suami yang begitu dicintainya ternyata selingkuh dengan
wanita lain. Hati istri mana yang tidak pecah berantakan mengetahui
bahwa suaminya menghianati ikatan suci yang telah dibina selama enam
tahun lebih.
Tahun 2009 lalu
adalah tahun yang tak akan terlupakan oleh Zahra. Tepat di tanggal 17
Juli 2009, dia dipersunting oleh Rahmad, sosok lelaki yang sangat
dicintainya semenjak masih berada di bangku kuliah. Zahra menjadi wanita
yang beruntung bisa memiliki Rahmad. Dia adalah salah satu lelaki yang
banyak digilai oleh teman-teman kampusnya. Penampilannya yang kalem,
mudah bergaul dan pandai membuatnya banyak dikejar oleh para hawa.
***
Lima tahun
setelah pernikahan, Zahra masih belum dikaruniai anak. Dua kali sudah
Zahra mengalami keguguran. Hal ini membuat keluarganya menjadi tidak
lagi senyaman dulu. Sebuah ujian yang berat tentunya, terlebih lagi sang
mertua sudah tidak sabar untuk mendapatkan cucu.
Malam itu, Zahra
sedang makan bersama dengan mertuanya. Di saat seperti inilah sang
mertua acapkali membahas masalah tentang kegagalan Zahra yang belum bisa
memberikannya cucu.
"Nak, kapan kamu bisa memberikan cucu untukku?" Pertanyaan dari mertua Zahra membuka percakapan malam itu.
"Maafkan Zahra,
Ma. Zahra ingin sekali segera memberikan cucu. Tapi Zahra hanya bisa
berusaha dan berdoa, sedang hasil akhirnya tetaplah Allah yang
menentukan," jawab Zahra dengan raut wajah yang memelas.
"Apa kamu tidak
punya pikiran untuk mengadopsi anak? Umur Mama sudah semakin tua,
sebelum meninggal, Mama ingin merasakan menggendong cucu!"
Zahra terkaget-kaget mendengar pertanyaan mertuanya.
"Tapi ... apakah Mas Rahmad setuju kalau aku meminta mengadopsi anak, Ma?"
"Coba kamu
bicarakan hal ini dengan suamimu. Siapa tahu dia setuju dengan usulan
ini." Jawab mertua Zahra dengan muka yang datar.
"Teng tong!!!"
Tiba-tiba
terdengar suara bel rumah. Zahra bergegas menuju pintu untuk melihat
siapa yang datang. Ternyata suaminya yang baru saja pulang dari kantor.
Rahmad lekas masuk ke dalam rumah dan mengganti pakainnya. Dia pun
langsung menuju ruang makan untuk ikut makan bersama Zahra dan ibunya.
"Ada apa ini? Kuk suasananya terlihat tegang?" Rahmad mulai curiga dengan gerak-gerik istri dan ibunya yang tidak seperti biasa.
"Mas ... boleh aku bertanya?"
"Mau tanya apa, Ma? Terlihat wajah Rahmad yang kebingungan dan penasaran.
"Gini, Mas. Tadi
aku habis ngobrol sama Mama. Dia ingin segera mendapatkan cucu. Mama
ingin kita mengadopsi anak." Dengan perlahan Zahra mencoba menyampaikan
apa yang tadi diutarakan oleh mertuanya.
"Apa?!
Mengadopsi anak? Aku tidak mau!!!" Terlihat wajah Rahmad yang penuh
amarah. Bagaimana tidak, pertanyaan Zahra seolah menjadi petir yang
tiba-tiba menyambar. Terlebih lagi dia baru saja pulang dari mencari
nafkah.
***
Semenjak
percakapan malam itu, sifat Rahmad mulai berubah. Dia lebih sering
bediam diri. Hal ini tentu membuat Zahra serba kebingungan atas sikap
suaminya yang berubah drastis. Zahra merasa bersalah atas apa yang telah
dia sampaikan tentang keinginan mertuanya untuk mengadospi anak. Tapi
bagaimana lagi, Zahra seolah berada di antara jurang yang sama-sama
dalam. Di satu sisi, sebagai seorang istri dia tidak ingin membuat
suaminya marah, tapi di sisi lain sebagai seorang menantu dia tak ingin
membuat mertuanya juga marah.
Akhir-akhir ini
pun suaminya sering pulang malam. Entah apa yang dilakukan di luar sana.
Sebagai seorang istri, tentunya Zahra menaruh curiga sekaligus khawatir
akan suaminya dan kelangsuang rumah tangga mereka. Setiap malam Zahra
selalu berdoa dan memohon petunjuk kepada Allah agar diberikan jalan
keluar atas masalah yang sedang dihadapi.
Baginya, semua
ini tak lepas dari kuasa Allah. Setiap ujian yang ada pastilah tak akan
melebihi kekuatan hamba-hamba. Itulah yang selama ini menjadi kekeuatan
terbesar Zahra untuk senantiasa menjadi istri yang sholehah.
Hampir sebulan
sudah perubahan sifat Rahmad dirasakan Zahra. Selain itu, acapkali
berembus kabar perselingkuhannya dengan salah satu temannya semasa
kuliah dulu. Sebagai seorang istri, Zahra merasa semakin tertekan dengan
beredarnya berita tersebut. Dia tak tinggal diam, dengan diam-diam dia
mulai mencari tahu kebenaran yang harus dia tahu secara langsung.
***
Siang itu, Zahra
menuju kantor suaminya. Sesampainya di kantor, betapa kagetnya Zahra
ketika melihat suami yang dicintainya sedang bermesraan dengan wanita
yang dia kenal. Wanita itu adalah Rani, teman sebangku kuliahnya dulu.
"Mas Rahmad!!!" Teriakan Zahra berpadu dengan isak tangis yang tidak tertahankan lagi.
Rahmad
terkaget-kaget dan tak tahu harus berkata apa. Dia merasa malu karena
ketahuan basah sedang bermesraan dengan wanita lain. Belum sempat dia
menghampiri istrinya, Zahra bergegas keluar ruangan dengan tangis yang
masih membasahi pipi.
Rahmad lekas mengejar Zahra yang pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Zahra masuk kamar dan menutup pintu rapat-rapat.
"Maafkan aku, Ma! Aku tidak bermaksud untuk menduakanmu." Rahmad mengiba dari balik pintu sembari sesekali mengetuknya.
Menjelang malam
hari, Zahra masih saja mengurung diri di dalam kamar. Pikirannya
berkecamuk, antara mau menceraikan suaminya atau tidak. Sebagai seorang
istri, dia sejatinya tidak mau untuk bercerai. Baginya, perceraian
adalah hal yang sangat buruk dan dilarang dalam agamanya. Yang bisa
dilakukannya saat ini hanyalah berdoa dan berpikir dengan jernih.
Akhirnya dia memutuskan untuk tidak menceraikan Rahmad.
Zahra mengajak suaminya untuk berbicara empat mata. Alangkah kagetnya Rahmad ketika Zahra ingin dia menikahi Rani.
"Kamu ingin aku menikah dengan Rani?"
"Iya, mas.
Sebagai seorang istri aku tak ingin Mas Rahmad berbuat dosa. Seorang
laki-laki dihalalkan untuk mempunyai lebih dari satu istri. Oleh sebab
itu, Zahra mau mas Rahmad menghalalkan hubungan dengan Rani. Zahra rasa,
ini adalah jalan yang terbaik." Air mata mulai menetesi pipi Zahra.
Sebagai wanita, dia tentu ingin menjadi satu-satunya. Tapi ekcintaannya
pada suami serta agar suaminya tidak berbuat dosa terus menerus, dia
memutuskan mengambil keputusan ini meski terasa sangat berat.
***
Rahmad akhirnya
menikah dengan Rani. Setelah pernikahan itu, Zahra merasa dinomor
duakan, terlebih saat ini Rani sedang mengandung seorang anak yang telah
lama sangat diharapkan oleh mertua dan suaminya. Mertua Zahra pun lebih
memperhatikan Rani daripadanya. Kesedihan yang teramat dalam dirasakan
oleh Zahra. Sebuah keangan masa lalu sesekali sering muncul mengingatkan
Zahra akan kebahagiaan awal rumah tangga mereka yang kini perlahan
mulai hancur. Tapi bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Keputusan
Zahra tidak bisa ditarik kembali.
Setahun lebih
sudah berlalu semenjak pernikahan Rahmad dan Rani. Rani pun sudah hamil
tua dan akan segera melahirkan. Sebuah kejadian tak terduga kembali
terjadi. Saat berada di Rumah Sakit, dokter yang menangani kehamilan
Rani mengatakan kepada Rahmad bahwa kaehamilan istri keduanya itu
mengalami gangguan. Sebuah pilihan yang sulit ketika Dokter mengatakan
bahwa kemungkinan Rani akan meninggal jika tetap bersikukuh melahirkan.
Tapi pilihan
berada di tangan Rani. Dia memutuskan untuk tetap melahirkan dengan
resiko kehilangan nyawanya. Takdir sudah ditetapkan, akhirnya Rani
meninggal setelah melahirkan seorang anak perempuan. Kebahagiaan
bercampur kesedihan dirasakan secara bersamaan oleh Rahmad. Tangis yang
keluar pun tak jelas asa usulnya, apakah tangis bahagia ataukah berduka.
Semenjak saat
itu, anak perempuan yang dilahirkan oleh Rani diasuh oleh Zahra sebagai
istri pertama Rahmad. Zahra dengan ikhlas merawat anak itu. Meskipun
tidak lahir dari rahimnya sendiri, baginya anak ini adalah titipan dari
Allah yang telah menjadi bagian dari keluarganya. Hari demi hari berlalu
penuh dengan kebahagiaan. Zahra merasakan kebahagiaan yang luar biasa,
sebab Rahmad dan mertuanya kembali seperti dulu lagi. Bagi Zahra, inilah
jalan keluar yang diberikan oleh Allah. Keikhlasan dan keputusannya
untuk meminta Rahmad menikahi Rani telah menjadi jalan terbaik untuk
mengembalikan keharmonisan keluarganya. Setelah sekian lama menanti
akhirnya, pondasi rumah tangga Zahra muai kembali kokoh dan siap untuk
mengarungi kehidupan yang lebih baik lagi.
GubukAksara, 2015







0 komentar:
Posting Komentar