. Kepercayaan dan Cinta ~ DetikSisa.com

Rabu, 18 November 2015

Kepercayaan dan Cinta


Kepercayaan dan Cinta

"Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Mas? Apa salahku?" Gerimis tipis mulai membasahi pipi Zahra. Sore itu, hatinya serasa disayat-sayat pedang nan tajam. Bagaimana tidak, suami yang begitu dicintainya ternyata selingkuh dengan wanita lain. Hati istri mana yang tidak pecah berantakan mengetahui bahwa suaminya menghianati ikatan suci yang telah dibina selama enam tahun lebih. 

Tahun 2009 lalu adalah tahun yang tak akan terlupakan oleh Zahra. Tepat di tanggal 17 Juli 2009, dia dipersunting oleh Rahmad, sosok lelaki yang sangat dicintainya semenjak masih berada di bangku kuliah. Zahra menjadi wanita yang beruntung bisa memiliki Rahmad. Dia adalah salah satu lelaki yang banyak digilai oleh teman-teman kampusnya. Penampilannya yang kalem, mudah bergaul dan pandai membuatnya banyak dikejar oleh para hawa.

***

Lima tahun setelah pernikahan, Zahra masih belum dikaruniai anak. Dua kali sudah Zahra mengalami keguguran. Hal ini membuat keluarganya menjadi tidak lagi senyaman dulu. Sebuah ujian yang berat tentunya, terlebih lagi sang mertua sudah tidak sabar untuk mendapatkan cucu. 

Malam itu, Zahra sedang makan bersama dengan mertuanya. Di saat seperti inilah sang mertua acapkali membahas masalah tentang kegagalan Zahra yang belum bisa memberikannya cucu.

"Nak, kapan kamu bisa memberikan cucu untukku?" Pertanyaan dari mertua Zahra membuka percakapan malam itu.

"Maafkan Zahra, Ma. Zahra ingin sekali segera memberikan cucu. Tapi Zahra hanya bisa berusaha dan berdoa, sedang hasil akhirnya tetaplah Allah yang menentukan," jawab Zahra dengan raut wajah yang memelas.

"Apa kamu tidak punya pikiran untuk mengadopsi anak? Umur Mama sudah semakin tua, sebelum meninggal, Mama ingin merasakan menggendong cucu!" 

Zahra terkaget-kaget mendengar pertanyaan mertuanya. 

"Tapi ... apakah Mas Rahmad setuju kalau aku meminta mengadopsi anak, Ma?" 

"Coba kamu bicarakan hal ini dengan suamimu. Siapa tahu dia setuju dengan usulan ini." Jawab mertua Zahra dengan muka yang datar.

"Teng tong!!!"

Tiba-tiba terdengar suara bel rumah. Zahra bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata suaminya yang baru saja pulang dari kantor. Rahmad lekas masuk ke dalam rumah dan mengganti pakainnya. Dia pun langsung menuju ruang makan untuk ikut makan bersama Zahra dan ibunya. 

"Ada apa ini? Kuk suasananya terlihat tegang?" Rahmad mulai curiga dengan gerak-gerik istri dan ibunya yang tidak seperti biasa.

"Mas ... boleh aku bertanya?" 

"Mau tanya apa, Ma? Terlihat wajah Rahmad yang kebingungan dan penasaran.

"Gini, Mas. Tadi aku habis ngobrol sama Mama. Dia ingin segera mendapatkan cucu. Mama ingin kita mengadopsi anak." Dengan perlahan Zahra mencoba menyampaikan apa yang tadi diutarakan oleh mertuanya.

"Apa?! Mengadopsi anak? Aku tidak mau!!!" Terlihat wajah Rahmad yang penuh amarah. Bagaimana tidak, pertanyaan Zahra seolah menjadi petir yang tiba-tiba menyambar. Terlebih lagi dia baru saja pulang dari mencari nafkah.

***

Semenjak percakapan malam itu, sifat Rahmad mulai berubah. Dia lebih sering bediam diri. Hal ini tentu membuat Zahra serba kebingungan atas sikap suaminya yang berubah drastis. Zahra merasa bersalah atas apa yang telah dia sampaikan tentang keinginan mertuanya untuk mengadospi anak. Tapi bagaimana lagi, Zahra seolah berada di antara jurang yang sama-sama dalam. Di satu sisi, sebagai seorang istri dia tidak ingin membuat suaminya marah, tapi di sisi lain sebagai seorang menantu dia tak ingin membuat mertuanya juga marah.
Akhir-akhir ini pun suaminya sering pulang malam. Entah apa yang dilakukan di luar sana. Sebagai seorang istri, tentunya Zahra menaruh curiga sekaligus khawatir akan suaminya dan kelangsuang rumah tangga mereka. Setiap malam Zahra selalu berdoa dan memohon petunjuk kepada Allah agar diberikan jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi.
Baginya, semua ini tak lepas dari kuasa Allah. Setiap ujian yang ada pastilah tak akan melebihi kekuatan hamba-hamba. Itulah yang selama ini menjadi kekeuatan terbesar Zahra untuk senantiasa menjadi istri yang sholehah.
Hampir sebulan sudah perubahan sifat Rahmad dirasakan Zahra. Selain itu, acapkali berembus kabar perselingkuhannya dengan salah satu temannya semasa kuliah dulu. Sebagai seorang istri, Zahra merasa semakin tertekan dengan beredarnya berita tersebut. Dia tak tinggal diam, dengan diam-diam dia mulai mencari tahu kebenaran yang harus dia tahu secara langsung. 

***

Siang itu, Zahra menuju kantor suaminya. Sesampainya di kantor, betapa kagetnya Zahra ketika melihat suami yang dicintainya sedang bermesraan dengan wanita yang dia kenal. Wanita itu adalah Rani, teman sebangku kuliahnya dulu.

"Mas Rahmad!!!" Teriakan Zahra berpadu dengan isak tangis yang tidak tertahankan lagi.
Rahmad terkaget-kaget dan tak tahu harus berkata apa. Dia merasa malu karena ketahuan basah sedang bermesraan dengan wanita lain. Belum sempat dia menghampiri istrinya, Zahra bergegas keluar ruangan dengan tangis yang masih membasahi pipi.

Rahmad lekas mengejar Zahra yang pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Zahra masuk kamar dan menutup pintu rapat-rapat.

"Maafkan aku, Ma! Aku tidak bermaksud untuk menduakanmu." Rahmad mengiba dari balik pintu sembari sesekali mengetuknya.

Menjelang malam hari, Zahra masih saja mengurung diri di dalam kamar. Pikirannya berkecamuk, antara mau menceraikan suaminya atau tidak. Sebagai seorang istri, dia sejatinya tidak mau untuk bercerai. Baginya, perceraian adalah hal yang sangat buruk dan dilarang dalam agamanya. Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah berdoa dan berpikir dengan jernih. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak menceraikan Rahmad.

Zahra mengajak suaminya untuk berbicara empat mata. Alangkah kagetnya Rahmad ketika Zahra ingin dia menikahi Rani.

"Kamu ingin aku menikah dengan Rani?"

"Iya, mas. Sebagai seorang istri aku tak ingin Mas Rahmad berbuat dosa. Seorang laki-laki dihalalkan untuk mempunyai lebih dari satu istri. Oleh sebab itu, Zahra mau mas Rahmad menghalalkan hubungan dengan Rani. Zahra rasa, ini adalah jalan yang terbaik." Air mata mulai menetesi pipi Zahra. Sebagai wanita, dia tentu ingin menjadi satu-satunya. Tapi ekcintaannya pada suami serta agar suaminya tidak berbuat dosa terus menerus, dia memutuskan mengambil keputusan ini meski terasa sangat berat.

***

Rahmad akhirnya menikah dengan Rani. Setelah pernikahan itu, Zahra merasa dinomor duakan, terlebih saat ini Rani sedang mengandung seorang anak yang telah lama sangat diharapkan oleh mertua dan suaminya. Mertua Zahra pun lebih memperhatikan Rani daripadanya. Kesedihan yang teramat dalam dirasakan oleh Zahra. Sebuah keangan masa lalu sesekali sering muncul mengingatkan Zahra akan kebahagiaan awal rumah tangga mereka yang kini perlahan mulai hancur. Tapi bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Keputusan Zahra tidak bisa ditarik kembali.

Setahun lebih sudah berlalu semenjak pernikahan Rahmad dan Rani. Rani pun sudah hamil tua dan akan segera melahirkan. Sebuah kejadian tak terduga kembali terjadi. Saat berada di Rumah Sakit, dokter yang menangani kehamilan Rani mengatakan kepada Rahmad bahwa kaehamilan istri keduanya itu mengalami gangguan. Sebuah pilihan yang sulit ketika Dokter mengatakan bahwa kemungkinan Rani akan meninggal jika tetap bersikukuh melahirkan. 

Tapi pilihan berada di tangan Rani. Dia memutuskan untuk tetap melahirkan dengan resiko kehilangan nyawanya. Takdir sudah ditetapkan, akhirnya Rani meninggal setelah melahirkan seorang anak perempuan. Kebahagiaan bercampur kesedihan dirasakan secara bersamaan oleh Rahmad. Tangis yang keluar pun tak jelas asa usulnya, apakah tangis bahagia ataukah berduka.

Semenjak saat itu, anak perempuan yang dilahirkan oleh Rani diasuh oleh Zahra sebagai istri pertama Rahmad. Zahra dengan ikhlas merawat anak itu. Meskipun tidak lahir dari rahimnya sendiri, baginya anak ini adalah titipan dari Allah yang telah menjadi bagian dari keluarganya. Hari demi hari berlalu penuh dengan kebahagiaan. Zahra merasakan kebahagiaan yang luar biasa, sebab Rahmad dan mertuanya kembali seperti dulu lagi. Bagi Zahra, inilah jalan keluar yang diberikan oleh Allah. Keikhlasan dan keputusannya untuk meminta Rahmad menikahi Rani telah menjadi jalan terbaik untuk mengembalikan keharmonisan keluarganya. Setelah sekian lama menanti akhirnya, pondasi rumah tangga Zahra muai kembali kokoh dan siap untuk mengarungi kehidupan yang lebih baik lagi.

GubukAksara, 2015
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

0 komentar:

Posting Komentar