Hari ini adalah hari
ke-lima di lebaran tahun 2012. Seperti biasa, saat seperti ini adalah
saat yang tepat berkunjung ke sanak saudara. Saling mengunjungi untuk
bersilaturahmi menjadi sebuah keharusan yang tak bisa dilepaskan.
Malam itu, aku dan keluarga besar sedang berkumpul di rumah. Sebuah suasana yang mungkin hanya setahun sekali terjadi. Maklum, beberapa sanak saudara berada di luar kota. Susana kebersamaan begitu kental terasa, hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga tak terasa sudah larut malam.
Malam itu, aku dan keluarga besar sedang berkumpul di rumah. Sebuah suasana yang mungkin hanya setahun sekali terjadi. Maklum, beberapa sanak saudara berada di luar kota. Susana kebersamaan begitu kental terasa, hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga tak terasa sudah larut malam.
"Za, besuk ikut ke Temanggung, ya. Silaturahmi ke rumah bulikmu."
"Iya, paklik. Insyaallah."
Pagi tiba, azan
subuh menggema membangunkan tidurku. Pukul lima pagi, aku dan paklik
beserta istrinya bersiap-siap untuk berangkat ke Temanggung. Dengan
menggunakan mobil, kami melakukan perjalanan menuju rumah keluarga
bulik. Perjalanan yang begitu melelahkan, terlebih lagi beberapa hari
ini tenagaku habis untuk berkeliling ke tempat saudara selain itu juga
semalam aku tidur terlalu larut malam sebab bercengkerama dengan sanak
saudara. Akhirnya, setelah dua jam perjalanan, kami tiba di rumah
bulik. Saling bercengkerama dan bercanda membuat kelelahan saat
perjalanan perlahan sirna.
***
Matahari mulai
condong ke barat. Tak terasa maghrib tiba. Setelah melakukan salat
maghrib, kami berpamitan untuk kembali ke Jogja. Tubuh ini begitu
lemas, terlebih lagi sedari pagi perut hanya mampu menampung sedikit
nasi. Di perjalanan pulang, kepala ini benar-benar terasa pusing. Mukaku
mulai pucat, keringat dingin mengalir deras.
"Kamu kenapa, Za? Mukamu pucat." Tanya bulik kepadaku.
"Kepalaku pusing, Bulik."
Badan bergetar
hebat, rasanya kepala ingin pecah saja. Aku berusaha sekuat tenaga
untuk menahan rasa sakit. Beberapa menit kemudian, pandanganku mulai
kabur, semua remang-remang dan semakin tak terlihat. Gelap! Semua
begitu gelap! Aku tak sadarkan diri. Hanya keheningan yang terasa.
Tubuhku tak bisa digerakkan.
***
Perlahan kubuka
mata. Tubuh rasanya tak berdaya. aku begitu bingung, apa yang sedang
terjadi? Di hidung telah menempel selang oksigen, selang infus juga
sudah rapi melekat di tangan. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi,
yang kuingat hanyalah saat di dalam mobil dan tiba-tiba semua menjadi
gelap
"Kamu sudah sadar, Nak?"
"Aku ada di mana, Bu?"
"Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan di mobil."
Beberapa bagian
tubuh mati rasa, bahkan tangan kananku tak bisa kugerakkan sama
sekali. Ini pertama kalinya kurasakan sakit yang begitu hebat di sekujur
tubuh. Tak selang lama, dokter menghampiri dan mengecek keadaanku.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Ayah yang duduk di samping Ibu.
"Baik-baik
saja, Pak. Mungkin karena kelelahan. Tadi sudah diambil sampel
darahnya, kita tunggu hasil uji laboratoriumnya dulu, baru bisa tahu apa
yang menyebabkan anak Bapak pingsan."
***
Hari berganti.
Saat menjelang maghrib, sekitar pukul lima sore, banyak sanak saudara
dan tetangga yang berdatangan untuk menjengukku. Rasanya hatiku begitu
terenyuh, ternyata masih banya yang perduli padaku. Beberapa teman
kuliah dan teman-teman organisasi di desa juga datang. Kedatangan mereka
membuatku terharu.
Azan maghrib
terdengar. Saat itu juga, tiba-tiba kepalaku seperti ingin pecah.
Perutku mual dan ingin muntah tapi tak ada yang dimuntahkan. Rasanya
mata ini kembali berkunag-kunang. Napasku mulai tak teratur. Dada ini
tiba-tiba begitu sesak, tubuh pun mulai kejang-kejang. Sakit yang
begitu hebat kurasakan di sekujur tubuh.Kupegang erat tangan ibu yang
menghampiriku. Aku pun kembali tak sadarkan diri. Hanya tangisan dan
jerit yang terdengar tanpa mampu melihat apa yang sedang terjadi.
Gaduh! Jerit, tangis dan kepanikan begitu terasa meskipun mata tak
mampu melihat apa-apa. Kudengar ibu dan ayah menangis,
memanggil-manggil namaku berulang kali.
"Istighfar, Nak."
Tiba-tiba semua
terasa hening. Suasana ini ..., membawaku ke dalam ketenangan yang
belum pernah kurasakan. Samar-samar terlihat sosok yang tak kukenal dan
tak pernah bisa kuingat. Yang masih melekat hanyalah pegangan tangannya
yang begitu menyejukkan.
"Apakah aku
sudah mati? Ya, Allah, aku masih belum ingin mati. Masih banyak bekal
yang harus kukumpulkan untuk mendapatkan surgaMu"
Entah apa yang
terjadi, badan tak bisa kugerakkan, mata pun tak bisa dibuka. Begitu
tenang! Meskipun begitu, hati dan pikiran masih bisa merasakan
ketakutan yang bercampur dengan penyesalan. Penyesalan atas apa yang
telah kulakukan selama ini. Suasana ini seolah menyeretku ke dalam
ruang perenungan yang begitu dalam. Aku takut! Takut karena merasa
masih belum cukup bekal untuk menemui kematian.
Tiba-tiba
kurasakan tetesan air di tanganku. Ya, air mata dari ayah dan ibu yang
selama ini tak jarang kumarahi juga kusanggah perintahnya.
Samar-samar kudengar ayahku menangis, "Ya Allah, jangan Kau ambil anakku secepat ini."
Tangis ini rasanya ingin pecah. Aku masih ingin hidup! Badan ini rasanya ingin bergerak dan segera memeluk ayah.
Beberapa saat
kemudian, mataku mulai bisa terbuka secara perlahan. Sedikit demi
sedikit mulai terlihat sanak saudara yang sudah mengerumuniku dengan
mata mereka yang berlinang air mata. Secepat kilat, ayah langsung
memeluk dan menciumi wajahku. Tak henti-hentinya kalimat syukur
terlontar. Pelukannya begitu terasa nyaman.
"Alhamdulillah, terima kasih Ya, Allah. Engkau telah mendengar doa-doaku."
Suasana yang
tadinya hening berubah menjadi haru. Air mataku berlinang, membasahi
pipi. Mulut tak mampu berkata apa-apa, hanya bisa merasakan hangatnya
pelukan ayah. Memang selama ini ayahlah yang paling dekat denganku.
Meskipun dia mendidikku dengan keras, namun justru itulah yang membuat
kami begitu dekat.
***
Peristiwa ini
menjadi peristiwa yang tak akan pernah terlupakan. Allah menegurku
dengan keras! Seolah Dia ingin mengatakan bahwa kematian bisa datang
kapan saja dan di mana saja. Tidak ada patokan umur menyoal kematian,
daun muda pun bisa gugur di terpa angin. Semua semakin terasa begitu
aneh, karena saat itu dokter tak menemukan penyakit yang parah di
tubuhku. Hasil uji laboratorium tidak menemukan keganjilan sedikitpun,
semua normal!
Selain itu, satu
hikmah yang sangat berarti adalah bahwa aku mulai mengerti betapa besar
rasa sayang seorang ayah. Baru pertama kali ini aku melihat ayah
menangis, menangis untuk anaknya. Betapa berdosa ketika selama ini, aku
acapkali durhaka dan berbuat salah kepadanya. Membantah, membentak,
tidak mendengarkan kata-katanya, tidak mematuhi apa yang diperintahnya,
dan masih banyak lagi kesalahan yang tak akan bisa dihitung dengan jari.
Aku mencintaimu, betapa air matamu benar-benar telah membuktikan
seberapa besar sayangmu padaku.
Rasa syukur tak
henti-hentinya kupanjatkan. Pikiranku melayang-layang di atas langit
muhasabah yang cerah. Dalam hati, aku berjanji akan menjadi lebih baik
lagi dari sebelumnya. Selain itu, membahagikan orang tua dan berbakti
kepada mereka adalah sebuah keharusan yang tak boleh dilupakan.
Terkadang, kita akan merasakan betapa besar kasih sayang orang tua pada
saat yang tak pernah kita kira sebelumnya.
Semenjak
kejadian itu, bayang-bayang kematian sering muncul saat aku sendirian.
Saat bayang-bayang kematian itu datang, saat itu pulalah ketakutan
menyelimuti. Bukan takut akan kematian, tapi lebih takut dengan apa yang
akan kutemui setelah kematian. Semua mahluk hidup pastilah akan mati.
Dan kematian bukanlah akhir, tapi sebuah awal dari kehidupan yang
abadi. Dengan mengingat kematian, kita akan senantiasa mengingat
kebesaran Allah dan mengingat apa yang seharusnya dilakukan di dunia
ini. Kita hendaknya berhati-hati dalam menjalani hidup! Selain itu,
peristiwa ini membuatku semakin sadar, ternyata sekeras apapun orang
tua, mereka tetap menyayangi kita dengan sepenuh hati. Sebagai seorang
manusia, kita harus senantiasa bermuhasabah atas apa yang kita lakukan
di dunia ini. Meskipun umur tidak bisa dihitung, dan kematian tak bisa
diterka kapan datangnya, tidak ada salahnya jika kita senantiasa
merenung dan mengukur waktu kita yang setiap hari semakin berkurang.
Ya, mengingat mati adalah hal yang akan mengingatkan kita kepada
Illahi. Ingatlah! Semua mahluk yang hidup pasti akan menemui kematian
dan setelah kematian akan datang kehidupan yang kekal.
GubukAksara, 2015







0 komentar:
Posting Komentar