. Manuskrip Aksara Bertuan ~ DetikSisa.com

Senin, 16 November 2015

Manuskrip Aksara Bertuan

Manuskrip Aksara Bertuan
Dalam setiap detik pastilah akan bermunculan berbagai kejadian yang akan dialami oleh manuisa. Tanpa disadari atau tidak, setiap kejadian itu pasti pula akan memberikan hikmah. Dari sinilah awal mula puisi-puisi ini saya ciptakan, semua puisi-puisi yang terlahir dari kejadian-kejadian di masa silam. "Manuskrip Aksara Bertuan" adalah sebuah judul yang memberikan efek bahwa setiap aksara yang tercipa pastilah akan mempunyai seorang tuan (Si pembuat aksara). Dan ini adalah persembahan dari seorang pejalan yang tengah menjalani kehidupan di dunia. Sebuah aksara yang tercipta dari berbagai peristiwa dalam bentuk perenungan dalam setiap langkah kaki yang dipijakkan di muka bumi ini.


Semu

laut yang tak pernah tidur
bertasbih kepada Tuhan
dan pantai yang menjadi selimutnya
adalah sebuah lukisan keterpura-puraan

Gubuk, 2015

Tentang Angan

inilah tentang angan berjulai
rindang bintang hilang terbingkai
awan terbang layang terbengkalai
mimpi tandang angan membangkai

aduhai bermalai intan di lautan
angan tertahan di tangan Tuhan
adakah daku mampu bertahan
melawan bimbang yang tertekan

duhai dinda mari bermantra
jangan angan mati disandera
usah ragu nyalakan gelora
luruhkan rintang yang membara

biarlah biar angan bertahta
sudahlah sudah disilau mata
wahai dinda dikaulah pelita
membawa terang dalam gulita

GubukAksara, 2015


Tawa Sederhana

adalah dinding berkarat
menjadi saksi tawa yang pecah
di atas rangka besi tua beroda
kaki mungil mengayuh angin
sudah cukup membawa terbang jauh angan tak bertuan

semua menjadi seperti mimpi
mengintip malu-malu di daun jendela matahari
tak ada suara
bising lalat-lalat terbang
jejak tikus-tikus berkeliaran
tapak kuda besi membentuk barisan

inilah tawa sederhana
dari bocah-bocah yang terlahir sungsang
merekah di tepian jurang peradaban
lihatlah!
kesederhanaan tak terejawantah
lebur di zaman yang berbalik arah

GubukAkasara, 2015


Jiwa-Jiwa Terpenjara

ketuklah sepuasmu
mereka bertelinga tapi tak mendengar
bermata tapi tak melihat
berhati tapi mati
berakal tapi diam

terpenjara sudah
jiwa-jiwa dibuta arah
dalam rupa-rupa pura-pura dunia
terkungkung mengurung memasung

lelah lelahlah sudah
jiwa-jiwa berlumur nanah
mati tenggelam
diam dalam kefanaan

ketuklah sekerasmu, semampumu
mereka akan tetap diam
dalam gelap tak berkesudahan

GubukAksara, 2015


Pada Suatu Ketika

pada suatu ketika
Kau adalah ruh dalam ramuan kata-kata
pada saat yang sama
Kau selalu hadir di puisiku yang pernah ada
pada suatu ketika
Kau menjadi rima di sajak yang kucipta
di saat yang sama
Kau menjadi penentu sinergisnya suara
pada suatu ketika
Kau adalah diksi tanpa ada dua
di saat yang sama
Kau adalah muara segala makna
pada suatu ketika
Kau adalah segalanya
di balik seribu bahasa yang ada
di antara semua puisi yang tercipta

GubukAksara, 13KosongSatu15


Menara Tua Al-Amin

menara tua di tengah kota
dari sanalah, Tuhan memanggil manusia
mengajak mereka bercengkerama melalui doa-doa
setan-setan berwajah pura-pura
bergelantungan di telinga
cumbu rayu dunia
butakan mata, butakan jiwa

menara tua menjerit memecah langit
saat fajar mengembalikan malam
saat terik di atas ubun-ubun
saat surya mulai tergelincir ke barat
saat senja menjemput bulan dan bintang
saat malam telah benar-benar datang
tak didengar!

menara tua dikoyak sepi
langkah-langkah kaki perlahan menjauhi
setan-setan kini berdendang riang
bersama manusia-manusia setengah binatang

GubukAksara, 05KosongSatu12


Sebuah Kisah

Bait-bait di kelopak kemboja dalam lipatan masa. Bunga kenanga menebar wanginya, membius serangga malam hingga semua terdiam. Lilin-lilin kehilangan sumbu, rembulan berkabung di peraduan. Burung hantu membacakan syair sunyi, menyambut kehadiran wajah serupamu. Dengan lirih, dibacalah namamu yang tertulis di gerbang rumahmu. Senyumnya hilang terseret arus mata air mata yang berlinang.

Langit berkabung
Kilat menyambar-nyambar
Gelap mencekam

Isak tangis sesekali kudengar, berkolaborasi dengan doa-doa yang dibacakan. Melantun beruntun, datanglah angin yang sigap menuntun. Terbang ke awan, menuju Sang Mahakekal. Lalu, dengan langkah lunglai dia menuju keramaian. Di setiap kota yang disinggahi, berceritalah dia tentangmu. Kepada semua kepala dia berkata "Dialah obor yang tak lagi bercahaya."

Gugurlah bunga
Hujan tak kunjung reda
Masa berduka

GubukAksara, 29DuaBelas14


DI ATAS LANGIT NEGERI LIMA MENARA

bulan sabit di atas awan
menyapa lima menara beradu kemegahan
kaupangku bulan penuh keresahan
mencari arti dari senyum yang dia lengkungkan
lima menara beradu tinggi?
inikah toleransi?

jawaban masih belum kautemukan
saat angin terbangkan sehelai kain
menutup matamu yang masih mencari arti
kini, lima menara saling menjatuhkan
kaudengar dentuman disahut jeritan-jeritan
hingga akhirnya kautemukan jawaban
: bulan tak sedang tersenyum, dia sedang berkabung

kain di matamu perlahan membasah
sebab mata air mata yang tak terbendung sudah
di atas langit negeri lima menara
kauhabiskan malam menunggu pagi tiba
berharap esok, lima menara berdiri sama tingginya

GubukAksara, 22DuaBelas14


Lukisan Bumi Pertiwi

sebuah lukisan perempuan setengah renta
: bermahkota sanggul, berkebaya jawa tua
duduk memangku bumi
burung garuda bersayap patah
menatap gundah penuh resah

wajah bumi bermuka kusut
penuh dengan lukisan
: asap dari sisa peperangan, gagak-gagak hinggap di pohon tak berdaun, bangkai-bangkai berserakan
perempuan tua menitikan air mata tanpa suara
tertunduk lesu menatap bumi di pangkuan
di sampingnya, bendera berkibar di tiang penggantungan
sebuah lukisan yang masih tetap saja sama
sejak enampuluh sembilan tahun silam

terpajang di dinding sebuah gedung tua bekas penjajahan
dibakarlah lukisan itu oleh sang raja
asapnya membumbung di angkasa
membentuk lukisan yang masih saja tetap sama

GubukAksara, 15DuaBelas14


Mak, Lekaslah Bangun

mak, lekaslah bangun!
mentari telah menyapa, kenapa kau masih mematung saja?
mak, kenapa kau diam?
aku takut mak, disini begitu riuh, orang-orang datang silih bergantian
ada apa ini mak? orang-orang berbaju hitam, berpayung hitam, semua serba hitam
tapi kenapa kau terbalut putih sendirian?
mak, kenapa kau seperti patung?
diam tak bicara, diam tak bergerak, hanya saja kau laksana patung yang tergeletak

mak, lekaslah bangun!
mereka mau membawamu pergi dengan pedati, aku takut sendiri
mereka akan menimbunmu, menabur tujuh rupa
memanjat doa tanpa air mata, tanpa tawa
aku tak bisa apa-apa, aku tak berdaya
aku hanya diam saja
kini, jadilah kita patung berdua

GubukAksara, 24Sebelas14


luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

0 komentar:

Posting Komentar