Setiap yang hidup sudah pasti akan menemui akhir dalam
kehidupan, baik tumbuhan, binatang, dan tentu juga manusia. Inilah sebuah
kepastian yang setiap manusia mengetahuinya secara pasti tanpa harus bertanya
dan mencari pembuktian kesana-kemari. Pagi, siang dan malam saling menggantikan
dan setiap detik senantiasa melaimbaikan tangan seraya mengucapkan salam
perpisahan, meskipun acapkali kita tiada pernah memperdulikan. Tidak ada
kepastian kapan dan dimana manusia akan mengalami KEMATIAN
, bahkan bisa jadi ketika saya selesai menulis artikel ini pun saya sudah tidak lagi diberi waktu untuk bisa menulis lagi.
, bahkan bisa jadi ketika saya selesai menulis artikel ini pun saya sudah tidak lagi diberi waktu untuk bisa menulis lagi.
Bukan menyoal kapan dan bagaimana kita menemui kematian
kelak, karena semua itu tidak akan pernah bisa untuk digapai oleh akal manusia.
Yang perlu kita pikirkan adalah apa yang sudah kita lakukan demi menyambut
kematian yang bisa datang kapan saja tersebut? Seberapa besarkah bekal yang
telah kita kumpulkan, dan sudahkah semua itu cukup untuk mendapatkan surga yang
Allah janjikan?
Terkadang manusia seringkali menjadi mahluk yang munafik
dalam menyikapi hal ini. Bagaimana tidak, manusia selalu saja merasa bahwa
hidupnya masih lama sehingga dengan rela dan ikhlas menghabiskan sisa waktu
yang masih ada untuk berfoya-foya mengejar nikmat dunia yang hanya sementara
dan fana. Bukankah daun muda juga bisa gugur tanpa harus menunggu kering?
Padahal sudah banyak contoh dan fakta yang mengabarkan bahwa umur bukanlah
suatu angka kepastian untuk menghitung kapan kematian itu datang. Ada bayi yang
baru saja dilahirkan dan baru saja menikmati kehidupan lalu menemui ajal, ada
pula anak-anak yang mengidap penyakit ganas dan menemui akhir kehidupan sebelum
dia merasakan masa-masa pertumbuhan dan masih banyak contoh lainnya. Lalu
apakah pantas kita menyombongkan diri dengan mengatakan, “Ah, saya masih muda,
umur saya masih panjang. Kelak kalau sudah tua, baru saya akan mencari bekal
untuk kehidupan mendatang.”
Jauh lebih parah lagi, betapa mudahnya virus filsafat kaum
muda yang mengatakan, “Muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga.”
Inilah salah satu bukti bahwa virus-virus yang seolah menyepelekan kematian dan
kehidupan setelah kematian tersebut mulai menggerogoti remaja zaman sekarang.
Hal ini tentu akan sangat berdampak buruk terhadap kejiwaan para remaja. Dengan
menjangkitnya virus-virus tersebut, sudah barang tentu akan membuat mereka
menjadi enggan untuk mempersiapkan bekal masa depan(akhirat) sedini mungkin.
Oleh sebab itu, marilah kita sebagai sesama muslim yang
hakikatnya adalah saudara antara satu dengan yang lain saling mengingatkan
betapa pentingnya mengingat kematian guna mempersiapkan bekal untuk menghadapi
kehidupan setelahnya. Semoga tulisan ini bisa membuka pikiran dan hati para
pembacanya. Aamiin
== Jika artikel ini bermanfaat silahkan share agar dapat dibaca
oleh banyak orang. Semoga yang menyebarluaskan artikel ini akan mendapatkan
pahala dari Allah SWT. Perlu diketahui bahwa setiap artikel dalam blog ini
adalah asli dan bukan jiplakan, oleh karena itu apabila ingin mengcopas
artikel, kami harapkan untuk mencantumkan sumber sebagai bentuk penghargaan
terhadap penulis. ==







0 komentar:
Posting Komentar