. Seberapa Pandaikah Kita? ~ DetikSisa.com

Sabtu, 19 September 2015

Seberapa Pandaikah Kita?

Seberapa Pandaikah Kita?


Sebuah perusahaan besar sedang melakukan tes untuk mencari karyawan baru. Setelah melalui beberapa proses tes, akhirnya tersisa dua peserta untuk menuju tahap akhir yaitu tes wawancara.

Pelamar pertama bernama Arya, dia lulusan terbaik salah satu perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta. Nilai akademisnya sempurna! Berbekal IPK sebesar 3,80 dia sangat yakin akan berhasil menjadi yang terpilih untuk bekerja di perusahaan tersebut.

Pelamar kedua bernama Radit. Berbeda dengan Arya, Radit hanyalah lulusan Universitas Swasta dengan nilai akademis yang pas-pasan yaitu dengan IPK 3,00, jauh lebih rendah dari pesaingnya.

***

Tibalah waktu tes wawancara, keduanya dipanggil ke sebuah ruangan untuk diberi beberapa pertanyaan.

"Selamat siang. Perkenalkan, nama saya Dr. Imron yang akan membawakan tes wawancara kali ini. Sebelum saya mulai tes, silahkan saudara memperkenalkan diri dahulu."

Tanpa banyak cing-cong, Arya langsung memperkenalkan dirinya.

 "Selamat siang, Pak. Nama saya Arya, lulusan salah satu perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta. Saya lulus sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,80. Dengan nilai saya tersebut, saya yakin akan mampu memberikan yang terbaik bagi perusahaan ini."

Dr.Imron hanya tersenyum sambil berkata, "Cukup. Bagus sekali. Nilai akademis Saudara Arya sangat bagus. Selanjutnya, silahkan Saudara Radit untuk memperkenalkan diri."

"Selamat siang, Pak. Nama saya Radit, pendidikan terakhir Sarjana di salah satu Universitas Swasta di Yogyakarta dengan IPK 3.00."

Dr. Imron terdiam sejenak.

"Oke, terima kasih atas perkenalannya. Perusahaan ini membutuhkan karyawan terbaik. Oleh karena itu, kami tidak akan asal-asalan dalam memilih karyawan. Akan banyak aspek yang dinilai dalam wawancara ini. Silahkan jawab pertanyaan saya dengan baik, pikirkan matang-matang sebelum menjawabnya. Saya hanya akan memberi satu pertanyaan yang sama kepada Saudara. Pertanyaannya sederhana, untuk apa Saudara mendaftar kerja di perusahaan ini?"

Arya mendapat giliran pertama untuk menjawab.

"Terima kasih atas kesempatan pertama yang diberikan. Saya ingin bekerja di sini untuk mencari pengalaman, Pak. Perusahaan ini adalah perusahaan yang besar, tentunya juga akan memberikan banyak ilmu dan pengalaman. Dengan bertambahnya ilmu dan pengalaman, tentu kinerja saya akan semakin baik ke depannya."

Dr. Imron kembali hanya tersenyum.

"Baiklah. Selanjutnya saya persilahkan Saudara Radit untuk menjawab!"

"Terima kasih, Pak. Saya ingin bekerja di sini karena ingin mendapatkan uang untuk kehidupan saya ke depannya."

Suasana menjadi hening seketika.

Arya menatap Adit dengan tatapan yang meremehkan. Di dalam hati dia berkata, "Pasti aku yang akan mendapatkan pekerjaan ini, jawaban Adit sangat buruk sekali!"

Tiba-tiba Dr. Imron tertawa lalu menjabat tangan Adit.

"Selamat, Saudara Adit yang terpilih untuk menjadi karyawan baru di perusahaan ini."

"Saya sangat terkesan dengan jawaban Saudara. Sudah ratusan kali saya melakukan tes wawancara, dan baru kali ini mendapat jawaban yang tegas serta tepat sasaran dan penuh dengan kejujuran. Sungguh jawaban yang briliant! Terkadang orang dengan nilai akademis yang bagus justru berpikir jauh dalam menjawab sebuah pertanyaan sederhana sehingga jawaban yang diberikan terlihat konyol meskipun bagi banyak orang jawaban itu adalah jawaban yang bagus. Pertanyaan saya tadi sebenarnya pertanyaan yang sangat sederhana dan mudah sekali untuk dijawab, untuk apa Saudara bekerja? Betul sekali! Hal utama yang harus kita dapatkan saat bekerja adalah uang. Tidak mungkin seseorang mendaftar kerja di perusahaan yang tidak akan memberikan gaji."

Dr Imron tertawa lepas, Adit pun juga ikut tertawa sedangkan Arya hanya tertunduk lesu. Bagi Arya, ini adalah pengalaman yang benar-benar dia dapatkan sesuai sekali dengan jawabannya tadi. Muehehehehe

***

Terkadang orang-orang yang pandai terlalu berpikir jauh dalam menjawab sebuah pertanyaan-pertanyaan yang sederhana. Kenapa bisa begitu? Tanpa disadari, kepandaian yang kita miliki serta nilai-nilai yang lebih baik dari yang lain justru mendekatkan kepada kesombongan karena setiap detik tidak ingin tersaingi. Muehehehehe

Seberapa pandaikah Anda?


Gubuk, 2015



luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

0 komentar:

Posting Komentar